RADARCIREBON.TV – Insiden tidak berfungsinya Video Assistant Referee (VAR) dalam laga antara Persija Jakarta melawan PSM Makassar di Jakarta International Stadium menjadi alarm penting bagi pengelola kompetisi. Peristiwa tersebut membuka ruang evaluasi besar terhadap kesiapan infrastruktur dan manajemen teknologi di BRI Super League 2025/2026.
VAR diperkenalkan sebagai solusi untuk meminimalisir kesalahan krusial dalam pertandingan. Dalam praktiknya, teknologi ini membantu wasit dalam empat situasi utama: gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain. Namun, penerapan teknologi canggih ini menuntut kesiapan teknis yang matang, mulai dari perangkat keras, koneksi komunikasi, hingga sumber daya manusia yang terlatih.
Jika dibandingkan dengan liga top Eropa seperti Premier League atau La Liga, standar operasional VAR diterapkan secara konsisten di setiap pertandingan tanpa pengecualian. Sistem cadangan dan prosedur darurat juga disiapkan untuk mengantisipasi gangguan teknis. Bahkan di level Asia, kompetisi seperti AFC Champions League telah memastikan penggunaan VAR berjalan dengan protokol ketat.
Baca Juga:Hasil Liga Europa: Nottingham Forest Menggila di Turki! Fenerbahce Dibantai 3-0Jadwal Proliga Putri 20 Februari 2026: Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia vs Jakarta Electric PLN Mobile
Di Indonesia, implementasi VAR memang menunjukkan progres dalam beberapa musim terakhir. Namun, insiden di JIS memperlihatkan masih adanya celah dalam aspek kesiapan teknis dan koordinasi operasional. Ketika VAR tidak aktif, seluruh keputusan kembali sepenuhnya berada di tangan wasit tanpa bantuan tayangan ulang. Hal ini tentu meningkatkan risiko kontroversi, terutama dalam laga berintensitas tinggi.
Untuk mencegah kejadian serupa, operator liga perlu melakukan audit menyeluruh terhadap sistem teknologi pertandingan. Pengujian perangkat sebelum kick-off harus dilakukan lebih ketat, termasuk memastikan adanya sistem back-up. Selain itu, pelatihan berkelanjutan bagi wasit dan tim VAR menjadi aspek penting agar standar pengambilan keputusan tetap terjaga.
Transparansi juga menjadi kunci. Publik berhak mengetahui penyebab gangguan teknis serta langkah konkret yang diambil sebagai perbaikan. Kepercayaan suporter terhadap kompetisi sangat bergantung pada profesionalisme penyelenggaraan.
Sepak bola Indonesia tengah berupaya meningkatkan reputasi di kancah regional maupun internasional. Konsistensi penggunaan teknologi seperti VAR menjadi salah satu indikator kemajuan tersebut. Jika ingin sejajar dengan liga-liga besar Asia dan Eropa, BRI Super League harus memastikan setiap pertandingan berjalan dengan dukungan sistem yang andal dan bebas gangguan teknis.
