FT : Juventus Vs Como 0-2, Juventus Babak Belur Dihajar Fabregas Ball

Cesc Fabregas
Cesc Fabregas melanjutkan kisah dongeng indah dengan Como Foto : Comofootball
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Malam di Allianz Stadium berubah menjadi panggung ironi. Juventus, klub dengan sejarah panjang dan lemari trofi yang nyaris berdebu karena terlalu sering dibuka, justru dipermalukan 0-2 oleh tamunya, Como, dalam lanjutan Serie A, Sabtu malam WIB.

Krisis? Itu kata yang terlalu halus. Yang terjadi di Turin lebih mirip sandiwara tragikomedi.

Bermain di kandang sendiri, dengan dukungan publik yang masih setia meski kesabaran mereka makin menipis, Juventus justru tampak seperti tim yang baru belajar menyusun serangan.

Baca Juga:Siaran Langsung Pertandingan Juventus vs Como Liga Italia 2026: Apakah Tayang di ANTV?Como 1907, Asuhan Cesc Fabregas, Kisah Dongeng Baru Dari Italia

Baru menit ke-11, gawang mereka sudah bergetar. Anastasios Douvikas membuka rangkaian petaka lewat kombinasi rapi yang berujung pada aksi Mergim Vojvoda. Tembakan kaki kirinya dari luar kotak penalti sempat disentuh Michele Di Gregorio. Sayang, sentuhan itu hanya memperhalus jalur bola menuju jaring. Skor 0-1, dan stadion mendadak sunyi seperti perpustakaan.

Juventus mencoba bereaksi. Mereka menguasai bola, memutar-mutar serangan, mengirim umpan ke kanan dan kiri, indah di statistik, hampa di papan skor. Dominasi tanpa daya rusak. Seolah-olah yang mereka kejar bukan gol, melainkan penguasaan bola paling estetis.

Jika gol pertama terasa seperti tamparan, gol kedua adalah tepuk tangan sarkastik dari semesta. Menit ke-61, sepak pojok Juventus yang dieksekusi setengah hati berubah menjadi undangan terbuka untuk diserang balik.

Maximo Perrone menggiring bola tanpa banyak gangguan, menembus ruang yang entah mengapa kosong. Ia kemudian menemukan Lucas Da Cunha di sisi kanan. Umpan silang rendah dilepas, dan Maxence Caqueret tinggal menyentuh bola ke gawang yang nyaris tak bertuan. Sederhana. Efisien. Mematikan. Skor 0-2.

Ironisnya, Como tampil seperti tim besar yang matang secara taktik, sementara Juventus terlihat seperti proyek eksperimental yang belum menemukan rumus. Klub yang dulu identik dengan mental baja kini rapuh oleh tekanan sendiri. Setiap kesalahan kecil berubah menjadi bencana, setiap peluang terbuang menjadi bahan cibiran.

Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin. Ini tentang harga diri yang terus tergerus. Tentang identitas yang kian kabur. Juventus yang dulu ditakuti kini justru memberi harapan bagi lawan-lawannya. Datang ke Turin bukan lagi momok, melainkan kesempatan.

0 Komentar