RADARCIREBON.TV – Pertandingan pekan lanjutan La Liga antara Osasuna dan Real Madrid di babak pertama benar-benar menghadirkan ironi yang menampar logika klasemen.
Di atas kertas, ini seharusnya laga formalitas bagi pemuncak klasemen. Real Madrid datang dengan skuad penuh bintang. Vinícius Júnior dan Kylian Mbappé berdiri di lini depan. Nama-nama seperti Federico Valverde, Aurélien Tchouaméni, hingga Thibaut Courtois membuat susunan pemain terasa seperti galeri pemain mahal. Tapi sepak bola bukan tentang daftar harga.
Osasuna, yang nyaman duduk di peringkat sembilan, justru tampil tanpa rasa minder. Mereka bermain lugas, berani, dan tahu persis bagaimana memanfaatkan celah. Real Madrid memang menguasai 67 persen penguasaan bola. Angka yang terlihat gagah di statistik, tapi terasa hampa di papan skor.
Baca Juga:Hasil Benfica vs Real Madrid: Dugaan Rasisme, Jose Mourinho Kartu Merah, dan Gol Indah Vinicius JuniorReal Madrid Tebus Hasil, Alexander-Arnold Unjuk Gigi di Laga Kontra Real Sociedad
Kejutan itu datang pada menit ke-38. Sebuah momen ceroboh di kotak terlarang membuat Courtois melakukan pelanggaran. Wasit menunjuk titik putih tanpa ragu. Stadion bergemuruh. Tekanan ada di kaki Ante Budimir. Striker Osasuna itu maju dengan tenang, menatap kiper jangkung Belgia yang biasanya begitu dominan. Satu langkah, satu tendangan, bola bersarang. 1-0.
Tamparan keras bagi tim yang terbiasa menampar lawan-lawannya. Secara statistik, kedua tim sama-sama melepaskan tujuh tembakan. Bedanya, Osasuna bermain efektif, sementara Madrid terlihat seperti kolektor peluang gagal. Umpan-umpan pendek rapi, pergerakan dinamis, tetapi selalu mentok di sepertiga akhir. Mbappé belum benar-benar meledak. Vinícius lebih sering terjebak duel satu lawan satu tanpa hasil nyata.
Di bangku cadangan, tekanan mulai mengarah kepada pelatih Álvaro Arbeloa yang kini dipercaya meracik taktik. Babak pertama menjadi alarm keras. Dominasi tanpa ketajaman hanyalah ilusi penguasaan.
Osasuna tidak bermain indah, mereka bermain efektif. Catena dan Herrando disiplin menjaga lini belakang. Moncayola dan Torro memotong aliran bola dengan sabar. Sementara Budimir menjadi simbol bahwa keberanian sering kali lebih berbahaya daripada reputasi.
Babak pertama usai dengan keunggulan tuan rumah. Real Madrid masih memimpin klasemen, tapi malam ini mereka dipaksa turun dari menara gading. Sepak bola selalu punya cara mengolok-olok kesombongan statistik.
