RADARCIREBON.TV – Situasi sulit tengah menyelimuti Juventus setelah kembali menelan kekalahan di pentas Serie A 2025/2026. Tumbang 0-2 dari Como 1907 di Allianz Stadium menjadi pukulan telak yang memperpanjang tren negatif Si Nyonya Tua. Hasil tersebut membuat Juventus kini mencatat tiga kekalahan beruntun di liga, sekaligus memperbesar ancaman gagal finis di zona Liga Champions.
Tim asuhan Luciano Spalletti sebenarnya sempat menunjukkan tanda kebangkitan pada paruh pertama musim. Namun memasuki fase krusial kompetisi, performa mereka justru menurun drastis. Dalam lima laga terakhir di semua ajang, Juventus hanya mampu meraih satu hasil imbang, sementara empat pertandingan lainnya berakhir dengan kekalahan. Statistik ini tentu menjadi alarm serius bagi manajemen dan para pendukung.
Salah satu sorotan utama tertuju pada pendekatan taktik Spalletti yang kerap menggunakan skema 3-4-2-1. Formasi tersebut sejatinya dirancang untuk memperkuat lini tengah sekaligus memberi keleluasaan bagi dua gelandang serang dalam mendukung penyerang utama. Namun dalam praktiknya, pola ini kerap menyisakan celah di sektor sayap dan membuat transisi bertahan menjadi lambat. Saat menghadapi Como, misalnya, Juventus kesulitan merespons tekanan cepat lawan dan gagal mengontrol tempo permainan.
Baca Juga:Jadwal Proliga Putri Hari Ini 22 Februari 2026: Jakarta Livin Mandiri vs Bandung BJB TandamataPrediksi Susunan Pemain dan Head to Head Persib Bandung vs Persita Tangerang 22 Februari 2026
Selain persoalan taktik, inkonsistensi individu juga menjadi masalah krusial. Beberapa pemain inti tampil di bawah standar dalam beberapa laga terakhir. Koordinasi lini belakang kurang solid, sementara lini depan terlihat tumpul dalam memaksimalkan peluang. Minimnya kreativitas saat membongkar pertahanan lawan membuat Juventus mudah terbaca dan kehilangan variasi serangan.
Faktor mental pun tak bisa diabaikan. Rentetan hasil buruk jelas memengaruhi kepercayaan diri skuad. Ketika kebobolan lebih dulu, tim tampak kesulitan bangkit dan cenderung kehilangan fokus. Kondisi ini berpotensi semakin berbahaya jika tidak segera dibenahi, mengingat persaingan papan atas Serie A semakin ketat.
Dengan posisi di klasemen yang mulai terancam pesaing terdekat, Juventus tak memiliki banyak waktu untuk berbenah. Spalletti dituntut segera menemukan solusi, baik melalui perubahan pendekatan taktik maupun rotasi pemain yang lebih efektif. Jika tren negatif terus berlanjut, bukan tidak mungkin tekanan terhadap kursi kepelatihannya semakin besar.
