RADARCIREBON.TV – Langit Amsterdam tadi malam ada nuansa merah putih. Tapi malam itu, ada satu nama yang membuat dada Indonesia terasa lebih tegak: Maarten Paes.
Ya, kiper Timnas Indonesia itu akhirnya menjalani debut resminya bersama raksasa Belanda, Ajax Amsterdam. Bukan laga persahabatan, bukan sekadar numpang lewat. Ia berdiri di bawah mistar selama 90 menit penuh saat Ajax menghadapi NEC Nijmegen dalam lanjutan Eredivisie.
Hasilnya memang bukan kemenangan mutlak. Skor berakhir 1-1. Tapi jangan salah—ini bukan soal angka semata. Ini tentang simbol. Ini tentang pesan.
Baca Juga:Mengenal Dick Schreuder, Kandidat Pelatih Ajax, Saat Maarten Paes Bersiap DebutMenuju Laga Perdana Bersama Ajax, Dua Aksi Gemilang Maarten Paes di Timnas Masuk Nominasi Awards
Paes, yang baru saja didatangkan dari klub MLS, langsung dipercaya sebagai starter. Sebuah keputusan berani. Sebuah kepercayaan yang tidak diberikan kepada sembarang pemain. Ia bukan wajah baru di Belanda. Ia pernah merasakan kerasnya kompetisi bersama FC Utrecht. Namun membela Ajax adalah level yang berbeda. Tekanannya berbeda. Ekspektasinya brutal.
Dan Paes menjawabnya dengan kepala tegak. Ajax sempat unggul lebih dulu lewat gol Godts. Stadion bergemuruh. Tapi di menit ke-57, NEC menyamakan kedudukan melalui Nejasmic. Clean sheet yang diharapkan sirna. Sebagian mungkin mencibir: “Debut, tapi kebobolan.”
Tunggu dulu. Sepak bola bukan permainan dongeng. Bahkan kiper kelas dunia pun kebobolan. Yang membedakan adalah respons, ketenangan, dan keberanian berdiri kembali setelah bola bersarang di jaring.
Paes tidak runtuh. Ia tetap kokoh. Refleksnya tajam. Distribusi bolanya rapi. Komandonya terdengar. Ia bermain bukan seperti pemain Asia yang “diberi kesempatan”, melainkan seperti penjaga gawang Eropa yang tahu betul nilai dirinya.
Statistik tak bisa berbohong. Sofascore memberinya rating 7,8. Angka yang bukan sekadar formalitas. Itu pengakuan bahwa debutnya solid, meyakinkan, dan jauh dari kata gugup.
Yang lebih membanggakan? Ia membawa identitas Indonesia di punggungnya. Di liga yang melahirkan legenda-legenda dunia, kini ada darah Indonesia berdiri sejajar. Bukan sebagai pelengkap. Bukan sebagai cerita eksotis. Tapi sebagai kompetitor.
Di klasemen sementara, Ajax kini berada di posisi keempat, bersaing ketat di papan atas bersama nama-nama besar seperti Feyenoord dan PSV Eindhoven. Sementara NEC bertengger di posisi ketiga. Persaingan ketat. Atmosfer panas. Dan Paes baru saja masuk ke dalamnya.
