RADARCIREBON.TV – Malam di Stadion Kie Raha, Ternate, terasa seperti arena peperangan. Sorak-sorai menggema di antara desir angin laut, dan duel Malut United kontra Persija menjelma laga hidup-mati yang menguras emosi. Sejak peluit awal dibunyikan, tensi sudah membara. Persija datang sebagai tamu, tetapi mereka bertarung seperti pasukan yang tak mengenal kata mundur.
Delapan menit laga berjalan, dentuman pertama datang. Alaaeddine Ajaraie menyambar peluang bak penyerang yang mencium bau darah. Gol cepat itu membuat stadion terdiam sesaat. Namun Malut United tak tinggal diam. Mereka merespons dengan tekanan tanpa henti, memaksa Persija bertahan dalam kepungan.
Menit ke-28, Jordi Amat menggandakan keunggulan lewat momen yang lahir dari determinasi. Gol itu bukan sekadar angka di papan skor, melainkan simbol keberanian di tengah tekanan. Persija unggul 0-2, tapi pertandingan belum usai. Justru sejak saat itu, gelombang serangan Malut kian menjadi-jadi.
Baca Juga:Hanya Persija yang Berhasil Tumbangkan Malut di Kandang, Persib dan Borneo Malah Tumbang di Kie RahaPemain Darah Biru Malut Cetak Gol, Persija Tempel Ketat Persib
Statistik berbicara lantang: Malut United mendominasi penguasaan bola dengan 51 persen, sementara Persija 49 persen. Tuan rumah melepaskan 20 tembakan, lima di antaranya tepat sasaran. Bandingkan dengan Persija yang hanya 11 kali menembak, namun lima di antaranya juga mengarah tepat ke gawang. Di sinilah letak bedanya. Persija tidak banyak menembak, tetapi mereka mematikan.
Babak kedua berubah menjadi drama yang nyaris meruntuhkan mental. Menit ke-77, Ciro Alves memperkecil ketertinggalan. Stadion meledak. Harapan tuan rumah kembali menyala. Tapi tiga menit kemudian, Fabio Colonego menusuk jantung pertahanan Malut dan mencetak gol ketiga Persija di menit ke-80. Gol itu seperti petir yang membelah semangat bangkit lawan.
Namun peperangan belum selesai. Menit ke-82, David da Silva mencetak gol kedua Malut. Skor 2-3 membuat sisa laga dipenuhi ketegangan. Setiap serangan terasa seperti ancaman terakhir. Persija dipaksa bertahan habis-habisan, sementara Malut menggempur tanpa ampun.
Meski kalah dalam penguasaan bola dan jumlah tembakan, Persija unggul dalam efektivitas dan ketenangan. Mereka mencatat akurasi umpan 84 persen, lebih tinggi dibanding Malut yang 81 persen. Operan-operan Persija lebih terarah, lebih tajam, dan lebih berbahaya. Mereka juga mencatat 33 sentuhan di kotak penalti lawan, sedikit lebih banyak dari Malut yang 32 kali.
