RADARCIREBON.TV – Serie A memang unik. Juara bertahan musim lalu, Napoli, hanya mampu menyelesaikan kompetisi di posisi ke-30 dalam klasemen Fase Liga Champions musim ini. Sementara itu, pemimpin klasemen saat ini, Inter Milan, mengalami kekalahan menyedihkan dari Bodo/Glimt.
Italia memang memiliki karakteristik sepak bola yang kuat, tetapi entah mengapa performa mereka di Liga Champions kali ini sangat mengecewakan. Kegagalan tim-tim Italia seolah mencerminkan kondisi negara menjelang play-off tim nasional.
Pada musim ini terdapat empat perwakilan Italia yang berkompetisi di Liga Champions. Napoli langsung tersingkir di fase grup. Inter dan Juventus tak berhasil melanjutkan di fase knockout. Kini hanya Atalanta yang tersisa.
Baca Juga:Gagasan Para Rider MotoGP, Demi Kesejahteraan Pembalap etapkan Upah Minimum Mulai 2027Fabio Quartararo dan Alex Rins Akui Kesulitan di Tes Pramusim, Namun tetap Kerahkan Yang Terbaik
Wajah Memalukan Serie A di Liga Champions: Hanya Atalanta yang Lolos 16 BesarPemain Inter Milan, Marcus Thuram (kiri), dan Alessandro Bastoni menunjukkan reaksi saat pertandingan play-off Liga Champions antara Inter melawan Bodo/Glimt di San Siro, Milan, Italia, Selasa, 24 Februari 2026 (c) AP Photo/Luca Bruno
Pada musim ini, dua wakil Italia tersingkir di babak play-off Liga Champions. Musim lalu, jumlahnya bahkan tiga. Sebelumnya, klub-klub Italia juga pernah tersingkir oleh tim-tim Belgia dan Belanda, kali ini oleh klub dari Norwegia dan Turki.
Nama-nama seperti Ivan Perisic, Noa Lang, Victor Osimhen, hingga Jens Petter Hauge, yang dulu dianggap tidak diperlukan, kembali mengganggu liga lamanya.
Reaksi dari masyarakat pun terlalu berlebihan. Ada klaim sensational yang membandingkan gaji pemain Bodo/Glimt dengan klub-klub divisi tiga di Italia. Hasil buruk ini kemudian dihubungkan dengan kekhawatiran lama, yaitu kemungkinan timnas tidak ikut serta di Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut.
Namun, keadaan ini tidak sesederhana itu. Sepak bola Italia memang sedang mengalami “masa sulit”, tetapi masa ini bukanlah sesuatu yang permanen. Apalagi hasil-hasil lainnya justru menunjukkan situasi yang berbeda.Kegagalan selalu meninggalkan kesan yang lebih lama dibandingkan dengan keberhasilan.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, klub-klub asal Italia telah berpartisipasi dalam delapan final kompetisi Eropa. Pada awal musim lalu, Serie A bahkan memulai fase liga Liga Champions sebagai pemuncak peringkat koefisien UEFA dengan lima perwakilan.
