×
RCTV live Streaming

Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei Gugur Diserangan Pertama Amerika dan Israel

Ali Khamenei
Ali Khamenei Gugur Foto : net/ist
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Iran berkabung. Tangis belum reda di sudut-sudut Teheran. Di jalanan yang biasanya padat dan riuh, kini hanya terdengar sirene dan lantunan doa. Bendera setengah tiang berkibar di berbagai gedung pemerintahan.

Republik Islam Iran memasuki masa paling genting dalam sejarah modernnya setelah Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, dinyatakan tewas dalam serangan udara gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi (28/2/2026).

Konfirmasi resmi disampaikan Minggu (1/3). Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Di sejumlah kota besar, Teheran, Isfahan, Shiraz, hingga Mashhad, ribuan warga turun ke jalan, sebagian membawa foto Khamenei, sebagian lain hanya berdiri terdiam dengan mata sembab.

Baca Juga:IRAN SERANG BALIK! Rudal Menghantam Israel dan Basis Militer ASPERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Kompak Serang Iran, Ledakan Guncang Teheran!

“Ini bukan hanya kehilangan seorang pemimpin. Ini kehilangan arah,” ujar Reza (45), seorang pedagang di Teheran selatan, dengan suara bergetar. “Kami tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”

Pernyataan resmi justru terdengar keras dan tanpa kompromi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa “operasi ofensif terberat dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan segera dimulai.” Targetnya disebut sebagai wilayah dan pangkalan Amerika yang “diduduki”.

Pernyataan itu diperkuat oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), yang menyebut serangan gabungan AS, Israel sebagai “kejahatan besar” yang tidak akan dibiarkan tanpa balasan. SNSC bahkan menyebut peristiwa ini sebagai awal “lembaran baru dalam sejarah dunia Islam” dan memicu perlawanan besar terhadap apa yang mereka sebut sebagai penindasan global.

Retorika keras tersebut menandai babak baru yang berpotensi memperluas konflik di kawasan. Iran dan sekutunya, kata SNSC, “akan menjadi lebih tangguh dan lebih bertekad.”

Ironisnya, serangan terjadi hanya dua hari sebelum putaran keempat pembicaraan nuklir Iran AS yang dijadwalkan berlangsung di Wina. Sebelumnya, putaran ketiga negosiasi di Jenewa disebut menunjukkan kemajuan, dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi yang selama ini menjadi mediator mengisyaratkan adanya titik temu awal.

0 Komentar