Cuaca ekstrem dengan intensitas hujan yang tinggi sejak akhir tahun lalu berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Cirebon. Petani hortikultura menjadi yang paling terdampak, terutama pada tanaman yang sedang memasuki fase pembungaan.
Cuaca ekstrem dengan intensitas curah hujan yang tinggi sejak November 2025 hingga Februari 2026 menjadi tantangan bagi para petani hortikultura di Kabupaten Cirebon. Kondisi cuaca ekstrem tersebut menyebabkan terganggunya pertumbuhan sejumlah komoditas, terutama tanaman yang sedang berada pada fase pembungaan.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Durahman J. Supena, mengatakan, tingginya curah hujan membuat tingkat kelembapan meningkat sehingga memicu munculnya berbagai jenis jamur pada tanaman. Hal ini juga menyebabkan bunga pada tanaman mangga banyak yang rontok sehingga berpotensi menurunkan hasil panen.
Baca Juga:PSIT Mulai Lakukan Pembinaan Bibit Atlet Muda Sepakbola – VideoOJK Dan Pemkot Dukung Penguatan Ekonomi Keluarga – Video
Sementara itu, untuk komoditas perkebunan dampaknya dinilai tidak terlalu signifikan. Pasalnya, sebagian besar tanaman perkebunan memanfaatkan bagian batang atau kayunya, sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi cuaca dibandingkan tanaman hortikultura seperti mangga dan bawang merah yang sensitif terhadap perubahan iklim.
Meski demikian, pihak Dinas Pertanian terus melakukan pemantauan dan pendampingan kepada petani, agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan dan produktivitas pertanian tetap terjaga.