RADARCIREBON.TV – Tekanan besar melanda pasar keuangan Indonesia pada awal pekan ini. Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam hingga mendekati 5% pada perdagangan Senin (9/3/2026).
Pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional, khususnya terkait dampaknya terhadap kondisi fiskal pemerintah.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik.
Baca Juga:Bikin Geleng-geleng! Kiper Persib Teja Paku Alam Tampil Gacor, Tapi Tak Masuk Skuad Timnas Indonesia3 Nama Comeback ke Timnas Indonesia! Siapa Saja Pemain yang Kembali Dipanggil untuk Era Baru Garuda?
Menurutnya, dari sisi global, situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah terjadi pergantian kepemimpinan di Iran. Kepemimpinan baru di negara tersebut dinilai berpotensi memperpanjang konflik di kawasan yang selama ini menjadi pusat geopolitik energi dunia.
“Kemungkinan besar dalam enam bulan ke depan konflik di Timur Tengah masih akan berlanjut,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut berdampak langsung terhadap jalur perdagangan energi dunia, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak global.
Jika jalur ini terganggu, pasokan energi dunia berpotensi mengalami tekanan yang cukup besar. Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah global dalam beberapa waktu terakhir.
Saat ini harga minyak mentah jenis crude oil dan Brent crude tercatat telah mencapai sekitar 117 dolar AS per barel. Ibrahim memperkirakan harga minyak masih berpotensi meningkat jika konflik di kawasan Timur Tengah terus berlanjut.
Ia bahkan menilai harga minyak dunia bisa saja melonjak mendekati 200 dolar AS per barel apabila situasi geopolitik semakin memburuk.
“Kenaikan harga minyak ini juga akan berdampak pada komoditas energi lain seperti gas alam dan bisa memicu tekanan ekonomi global,” jelasnya.
Baca Juga:Inter Milan Tumbang di Derby, AC Milan Pangkas Jarak di Klasemen Serie AAC Milan Sapu Bersih Derby, Allegri Singgung Kenangan Scudetto 2011
Selain faktor eksternal, pasar domestik juga menghadapi tantangan tersendiri. Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah potensi tekanan terhadap kondisi fiskal pemerintah Indonesia.
Lonjakan harga minyak dunia dapat meningkatkan beban subsidi energi, terutama jika pemerintah tetap berupaya menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) agar tidak naik drastis di dalam negeri.
