Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi memperlebar defisit anggaran negara jika harga minyak terus bertahan di level tinggi.
“Jika harga minyak terus bertahan tinggi, kemungkinan defisit anggaran bisa melebar hingga sekitar 3,6 persen,” ujarnya.
Tekanan dari berbagai faktor tersebut turut memicu aksi jual di pasar saham Indonesia. Investor cenderung bersikap lebih berhati-hati di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Baca Juga:Bikin Geleng-geleng! Kiper Persib Teja Paku Alam Tampil Gacor, Tapi Tak Masuk Skuad Timnas Indonesia3 Nama Comeback ke Timnas Indonesia! Siapa Saja Pemain yang Kembali Dipanggil untuk Era Baru Garuda?
Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat juga tercatat mengalami penguatan yang cukup signifikan pada perdagangan global. Penguatan dolar AS ini memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Akibatnya, rupiah sempat melemah hingga menyentuh level Rp17.000 per dolar AS. Sementara itu, IHSG juga mengalami penurunan cukup dalam sebelum akhirnya sedikit mengurangi pelemahannya.
Berdasarkan data perdagangan pada sesi pertama Senin (9/3/2026) sekitar pukul 11.00 WIB, IHSG tercatat melemah sekitar 3,57 persen ke level 7.315,94.
Ibrahim menilai kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor dalam menghadapi berbagai risiko global dan domestik yang masih membayangi perekonomian.
Ketidakpastian geopolitik, lonjakan harga energi, serta potensi tekanan terhadap fiskal pemerintah menjadi faktor utama yang membuat pasar keuangan bergerak cukup volatil dalam beberapa waktu terakhir.
