Masjid Keramat Syekh Bayanillah di Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, menjadi salah satu saksi sejarah penyebaran Islam di wilayah Cirebon. Masjid tua ini dipercaya telah berdiri sejak abad ke-15, atau sekitar tahun 1450. Hingga kini, bangunan masjid masih digunakan masyarakat untuk berbagai kegiatan ibadah.
Masjid keramat ini berada di RT 02 RW 08 Blok Sampiran, Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Lokasinya berdekatan dengan kompleks makam Syekh Bayanillah, seorang ulama yang dikenal dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Cirebon.
Bangunan masjid memiliki ciri khas arsitektur lama. Bagian depan masjid masih mempertahankan struktur bangunan aslinya, yang diyakini sudah ada sejak masa para wali menyebarkan ajaran Islam di wilayah pesisir utara Jawa. Sementara itu, bagian belakang masjid merupakan bangunan tambahan yang dibangun untuk menambah ruang ibadah bagi masyarakat.
Baca Juga:20 Ribu Pemudik Motor Padati Jalur Arteri Cirebon – VideoPolisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Di Dukuh Semar – Video
Pembangunan tambahan ini dimulai sejak tahun 1980 dengan pemasangan pondasi di bagian belakang masjid. Hingga kini, bangunan lama masjid masih dipertahankan sebagai bagian dari nilai sejarah dan tradisi yang dijaga oleh masyarakat setempat. Di belakang bangunan masjid, terdapat sebuah bedug tua yang juga menjadi bagian dari cerita lokal yang berkembang di masyarakat. Bedug tersebut masih tersimpan di area masjid dan menjadi salah satu penanda keunikan Masjid Keramat Syekh Bayanillah.
Masjid ini hingga sekarang dikelola oleh warga sekitar secara turun-temurun. Salah satu juru kunci Masjid Keramat Syekh Bayanillah adalah Abah Main, yang saat ini berusia 76 tahun. Masjid Keramat Syekh Bayanillah tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi salah satu tujuan ziarah religi bagi masyarakat.
Sejumlah peziarah datang untuk mengunjungi kompleks makam Syekh Bayanillah yang berada di dekat masjid. Jumlah kunjungan peziarah biasanya meningkat pada malam Jumat Kliwon. Pada waktu tersebut, peziarah datang tidak hanya dari Cirebon, tetapi juga dari sejumlah daerah sekitar seperti Kuningan dan Indramayu. Pada bulan Ramadan, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan ibadah bagi warga sekitar.
Masyarakat memanfaatkan masjid untuk salat berjamaah, tadarus Alquran, serta berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Suasana masjid menjadi lebih ramai terutama pada malam hari, saat warga berkumpul untuk beribadah dan menghidupkan tradisi Ramadan di lingkungan masjid keramat tersebut.