Pohon Beringin Tua di Rumdin Wali Kota Cirebon Tumbang Jelang Lebaran, Tanda-tanda Apa?

Beringan tumbang
Pohon beringin tumbang di Rumdin Walikota Foto : radarcirebon.tv
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Ada yang lebih dari sekadar kayu lapuk yang roboh pada Rabu malam (18/3/2026). Sekitar pukul 21.51 WIB, pohon beringin tua di halaman rumah dinas Wali Kota Cirebon di Jalan Siliwangi tumbang.

Bukan hanya menimpa pagar dan kabel, pohon dengan diameter sekitar 150 cm dan tinggi 7 meter itu ambruk dalam diam, tanpa seremoni, tanpa peringatan resmi. Padahal, pohon beringin bukan sekadar tanaman. Ia simbol. Ia peneduh. Ia juga saksi waktu.

Namun ironisnya, saksi itu justru runtuh karena hal yang paling klise: lapuk.

Kepala BPBD Kota Cirebon, Andi Wibowo, menyebut dugaan penyebabnya sederhana.

Baca Juga:Walikota Cirebon Bayar Zakat Melalui Baznas – VideoWalikota Tinjau Proses Perbaikan Jembatan Lebakngok – Video

“Diduga kondisi pohon sudah lapuk,” ujarnya singkat. Kalimat yang terdengar biasa, tapi menyimpan pertanyaan besar: sejak kapan lapuk itu dibiarkan?

Karena pohon sebesar itu tidak tiba-tiba rapuh dalam semalam. Simbol yang Jatuh di Pusat Kekuasaan

Lokasi kejadian bukan tempat sembarangan. Ini rumah dinas wali kota, jantung simbolik pemerintahan daerah. Jika di tempat sepenting itu saja pohon bisa lapuk tanpa penanganan, bagaimana dengan ruang-ruang lain yang jauh dari sorotan?

Beringin sering dimaknai sebagai lambang kekuatan, keteduhan, dan perlindungan. Tapi ketika ia tumbang karena pembiaran, maknanya berubah: kekuatan yang rapuh, keteduhan yang semu.

Apakah ini sekadar insiden alam biasa? Atau refleksi dari sistem yang mulai keropos dari dalam?

Peristiwa ini memang tidak menelan korban jiwa. Hanya pagar rusak, kabel Telkom dan WiFi terganggu. Secara teknis, masalah selesai cepat, bahkan BPBD menyebut evakuasi rampung pukul 02.00 WIB.

Tapi secara makna, ini belum selesai. Alam punya caranya sendiri untuk “berbicara”. Tidak dengan kata-kata, tapi lewat kejadian. Pohon tumbang, banjir datang, tanah retak, semuanya bisa dibaca sebagai sinyal.

Baca Juga:BAKI “HABISI” Gugatan Sutardi, Era Koni Cirebon Dimulai: Jigus Resmi Pegang Kendali !Libur Lebaran Wajib Kesini! Tempat Wisata Ini Sajikan Danau, Gunung, dan Laut Sekaligus, Cuma Ada di Cirebon!

Dan sinyal itu sering kali muncul saat manusia terlalu sibuk dengan rutinitas. Yang paling menggelitik justru alasan klasik: lapuk. Lapuk adalah proses panjang. Ia butuh waktu, pembiaran, dan ketidakpedulian.

Artinya, kerusakan itu sebenarnya sudah lama terjadi, hanya saja tidak terlihat, atau lebih parah, tidak dianggap penting.

0 Komentar