RADARARCIREBON.TV – Pelatih Arsenal, Mikel Arteta tak bisa menutupi perasaan kecewanya saat timnya gagal menyabet juara Piala Carabao 2025/2026.
Arsenal ditundukkan Manchester City 0-2 dalam final Piala Carabao 2025/2026 di Wembley, Minggu (22/3/2026).
Hasil minor itu tentu membuat Mikel Arteta merasa gagal membawa pulang trofi perdananya di musim ini.
Baca Juga:Coret Ernando Ari dan Ricky Kambuaya, Ini Skuad Final Timnas Indonesia di FIFA SeriesJelang FIFA Series 2026, Timnas Indonesia Mulai Pemusatan Latihan
Mikel Arteta juga sempat mengungkapkan pendapatnya atas kegagalan timnya ketika tumbang oleh Manchester City.
“Well, sangat menyedihkan, sangat sulit untuk diterima, khususnya pemain dan pendukung kami karena kami tahu bagaimana itu berarti bagi mereka dan betapa kami menginginkannya,” kata Mikel Arteta.
“Dan faktanya, kami belum berhasil mewujudkannya. Itu jelas mengecewakan, dan menyedihkan, serta meninggalkan kesan yang sangat buruk,” sambungnya.
Mikel Arteta menekankan sejatinya pada babak pertama tim yang diasuhnya mampu bermain dengan cukup.
Akan tetapi, skuadnya mengalami sejumlah hambatan pada babak kedua yang akhirnya menghasilkan sepasang gol Nico O’Reilly pada menit ke-60 dan 64.
“Di babak pertama, saya pikir kami memiliki beberapa momen yang sangat bagus dan saya pikir kami adalah tim yang lebih baik, kami memiliki peluang terbesar dalam pertandingan yang seharusnya kami unggul 1-0 dan itu akan mengubah jalannya pertandingan,” papar Mikel Arteta.
“Di babak kedua, terutama dalam 18-20 menit pertama, kami mengalami beberapa masalah untuk keluar dari blok pertahanan mereka, untuk menekan mereka dengan lebih baik dan terutama untuk mengelola bola ketika kami merebutnya kembali dengan lebih baik daripada sebelumnya,” jelasnya.
Baca Juga:Performa Buruk Lawan Brighton Jadi Alarm, Liverpool Terancam Dibantai Paris Saint-Germain Everton Hancurkan Chelsea, Liam Rosenior Akui Timnya Tampil Buruk
Mikel Arteta mengakui timnya kebobolan dengan cara yang tak disangka, momen yang mampu mengganggu konsentrasi sekaligus merusak ritme permainan yang sebelumnya telah terbentuk.
Kondisi itu membuat para pemain malah kehilangan fokus, petaka pun datang hanya tiga menit kemudian.
Gawang Arsenal kembali jebol melalui skema serangan cepat lawan yang memanfaatkan peluang pada lini pertahanan.
Sepasang gol dalam waktu singkat tersebut menjadi mimpi buruk, tak cuma dari segi skor, tetapi juga secara mental. Sebab skuad harus mengejar ketertinggalan pada situasi krusial.
