Tradisi Obrog dan Tarling Cirebon, Warisan Budaya yang Hidupkan Ramadan hingga Lebaran

Tradisi Obrog Cirebon
Tradisi Obrog Cirebon foto : Pinterest
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Suasana Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri di wilayah Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terasa semakin hidup berkat keberadaan tradisi khas yang dikenal dengan sebutan obrog. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan membangunkan sahur, tetapi juga menjadi bagian penting dari kearifan lokal yang sarat nilai kebersamaan dan seni budaya.

Obrog telah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dilestarikan oleh masyarakat. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada dini hari, sekitar pukul 02.00, ketika sekelompok warga berkeliling kampung untuk membangunkan masyarakat agar bersiap menjalankan sahur. Suasana malam yang semula sunyi pun berubah menjadi lebih semarak dengan iringan bunyi alat musik tradisional.

Sujai, warga Blok Bentuk, Desa Gintung Tengah, Kecamatan Ciwaringin, menjelaskan bahwa obrog sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat sejak lama. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga menghadirkan hiburan bagi warga.

Baca Juga:Arus Balik Lebaran di Simpang Palimanan Padat Merayap – Video4 Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Tol Cipali – Video

“Biasanya mereka keliling kampung sambil memainkan alat musik sederhana seperti kentongan dan gendang. Ini sudah jadi kebiasaan masyarakat setiap Ramadan,” ujarnya.

Keunikan obrog terletak pada perpaduan alat musik tradisional yang dimainkan secara berkelompok. Bunyi ritmis dari kentongan dan gendang menciptakan suasana khas yang mudah dikenali. Selain itu, kegiatan ini juga sering diiringi lantunan lagu daerah Cirebon yang dikenal dengan tarling, yaitu perpaduan musik gitar dan suling.

Lagu-lagu tarling yang dibawakan oleh penyanyi lokal menambah daya tarik tersendiri dalam tradisi ini. Tidak jarang, warga yang terbangun justru menikmati pertunjukan musik tersebut sebelum menjalankan sahur. Hal ini menjadikan obrog tidak hanya sebagai pengingat waktu, tetapi juga hiburan yang dinanti-nanti.

Menariknya, tradisi obrog tidak berhenti saat Ramadan berakhir. Setelah Idul Fitri, kelompok obrog biasanya kembali berkeliling kampung selama beberapa hari, khususnya pada siang hingga sore hari. Pada momen ini, kegiatan lebih berfokus pada hiburan dan silaturahmi antarwarga.

Sebagai bentuk apresiasi, masyarakat sering memberikan sumbangan secara sukarela kepada para pelaku obrog. Sumbangan tersebut bisa berupa uang, beras, makanan, maupun minuman. Hal ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik yang erat antara pelaku tradisi dan masyarakat.

0 Komentar