Partisipasi dalam obrog juga melibatkan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan, anak-anak sekolah dasar hingga menengah kerap membentuk kelompok sendiri dengan peralatan sederhana. Keterlibatan generasi muda ini menjadi salah satu kunci keberlangsungan tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Meskipun dilakukan oleh banyak kelompok, suasana tetap berjalan harmonis. Tidak ada persaingan antar kelompok, justru sering terjadi kolaborasi ketika mereka bertemu di jalan. Mereka saling bermain musik bersama, menciptakan suasana kebersamaan yang kental.
Lebih dari sekadar tradisi, obrog memiliki nilai sosial yang tinggi. Selain membantu warga bangun sahur, kegiatan ini juga mempererat hubungan antarwarga serta menjadi sarana ekspresi seni lokal. Kehadirannya mampu menciptakan suasana Ramadan yang lebih hangat dan penuh semangat.
Baca Juga:Arus Balik Lebaran di Simpang Palimanan Padat Merayap – Video4 Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Tol Cipali – Video
Sujai berharap tradisi ini terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Cirebon. Ia menilai, di tengah modernisasi, tradisi seperti obrog tetap relevan karena membawa nilai kebersamaan dan kebahagiaan bagi masyarakat.
Dengan perpaduan musik tarling, semangat gotong royong, dan partisipasi lintas generasi, tradisi obrog menjadi bukti bahwa budaya lokal masih mampu bertahan dan berkembang, sekaligus memperkaya suasana Ramadan hingga Lebaran di tengah masyarakat.
