RADARCIREBON.TV — Di kaki Gunung Ciremai yang selama ini identik dengan sejuknya udara dan jalur wisata berkelok, sebuah wacana besar mulai terasa nyata: jalan tol akan melintas.
Bagi banyak warga, kabar ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah kemungkinan perubahan arah, dari wilayah yang selama ini hanya dilewati, menjadi tujuan.
Pemerintah pusat disebut tengah menggodok serius rencana pembangunan ruas tol yang akan menyentuh wilayah Kabupaten Kuningan.
Baca Juga:Bupati Kuningan Apresiasi Dedikasi Tenaga Kesehatan – VideoGeram, Bupati Kuningan Labrak Galian Ilegal – Video
Jalur ini diproyeksikan menjadi penghubung penting antara Tol Cipali di utara dan Tol Getaci di selatan dua koridor besar yang selama ini belum tersambung langsung melalui kawasan ini.
Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, mengakui bahwa pembahasan proyek tersebut sudah berjalan di level pusat dan provinsi. Dalam sejumlah forum di Bandung, rencana ini telah masuk meja perencanaan bersama Kementerian PUPR dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Masih dalam tahap perencanaan, tapi arahnya sudah jelas,” ujarnya.
Jika rencana ini benar-benar terealisasi, trase tol akan membelah sisi barat Kuningan wilayah yang selama ini dikenal dengan bentang alamnya yang hijau dan kontur menantang.
Dari Mandirancan, jalur diperkirakan bergerak melewati Pakembangan, Linggarjati, Sukamukti, Cigugur, Kadugede, hingga Darma. Dua titik yang disiapkan sebagai pintu keluar berada di Linggarjati dan Cigadung kawasan yang tak asing bagi wisatawan maupun pelintas sejarah.
Dari sana, jalur akan terus mengalir menuju Cikijing di Kabupaten Majalengka, sebelum akhirnya terkoneksi dengan Tol Getaci.
Bila dilihat dari peta, jalur ini seperti membuka “urat nadi” baru menghubungkan utara dan selatan Jawa Barat tanpa harus memutar jauh.
Baca Juga:Update Pangan Cirebon, Stok Beras Cirebon Tembus 136 Ribu Ton! Dijamin Aman Hampir Setahun, Warga Jangan PanikLink Streaming Final Carabao Cup, Arsenal Vs Manchester City! Duel Penentu Gelar Pertama 2026
Namun seperti banyak proyek besar lainnya, waktu menjadi variabel yang belum sepenuhnya pasti.
Pemerintah menyiapkan dua skenario pembangunan. Jika semua berjalan lancar, konstruksi bisa dimulai pada rentang 2028 hingga 2030. Namun jika berbagai proses teknis memerlukan waktu lebih panjang mulai dari studi kelayakan hingga pembebasan lahan realisasinya bisa bergeser hingga 2035.
Di titik inilah harapan dan kehati-hatian berjalan berdampingan.
Sebab bagi masyarakat, tol bukan hanya soal cepatnya perjalanan, tapi juga tentang perubahan lanskap sosial dan ekonomi.
