Selama ini, Kuningan lebih dikenal sebagai daerah tujuan wisata alam. Orang datang untuk mendaki, berendam di air panas, atau sekadar menikmati sejuknya pegunungan. Namun akses yang terbatas kerap menjadi kendala.
Dengan hadirnya tol, waktu tempuh dari kota-kota besar akan terpangkas. Arus barang pun diperkirakan lebih lancar.
Bagi pelaku usaha lokal, ini berarti peluang. Bagi generasi muda, ini bisa berarti lapangan kerja baru.
Baca Juga:Bupati Kuningan Apresiasi Dedikasi Tenaga Kesehatan – VideoGeram, Bupati Kuningan Labrak Galian Ilegal – Video
“Kalau akses terbuka, ekonomi akan ikut bergerak,” kata Dian.
Di balik rencana tol, Pemerintah Kabupaten Kuningan juga menyimpan ambisi lain: menghadirkan jalur kereta api yang menghubungkan daerah ini dengan kota-kota seperti Cirebon, Bandung, hingga Tasikmalaya.
Usulan itu bahkan telah disampaikan langsung kepada Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, yang juga memiliki kedekatan emosional dengan Kuningan sebagai daerah asalnya.
Namun, dibandingkan tol, proyek rel masih berada di jalur panjang. Realisasinya membutuhkan waktu, anggaran, dan kesiapan yang jauh lebih kompleks.
Jika kedua rencana ini berjalan, Kuningan tak lagi sekadar wilayah penyangga. Ia berpotensi berubah menjadi simpul, titik temu antara jalur logistik, pariwisata, dan mobilitas manusia.
Di lereng Gunung Ciremai, perubahan itu mungkin tak akan datang sekaligus. Tapi perlahan, jalan baru akan membuka cerita baru.
Dan bagi Kuningan, itu bisa berarti satu hal: keluar dari bayang-bayang, menuju peran yang lebih besar di peta Jawa Barat.
