RADARCIREBON.TV – Perjalanan inspiratif datang dari Saras Desch, sosok yang mengaku tidak memiliki latar belakang sepak bola, namun berhasil mendirikan Borussia Academy Indonesia. Kisahnya menjadi bukti bahwa passion dan ketekunan mampu membuka jalan menuju kontribusi nyata di dunia olahraga.
Awalnya, Saras hanya seorang ibu rumah tangga yang rutin mengantar anaknya berlatih sepak bola sejak usia dini. Aktivitas sederhana tersebut perlahan menumbuhkan ketertarikan yang mendalam terhadap olahraga ini. Dari sekadar menunggu di pinggir lapangan, ia mulai memahami dinamika latihan, pola pembinaan, hingga tantangan yang dihadapi pemain muda.
Ketertarikannya semakin berkembang seiring intensitas interaksi dengan pelatih dan manajemen tim. Tanpa latar belakang profesional di bidang sepak bola, Saras justru belajar dari sudut pandang orang tua yang terlibat langsung dalam proses perkembangan anak. Pengalaman tersebut memberinya perspektif unik tentang pentingnya sistem pembinaan usia dini yang terstruktur.
Baca Juga:Pelatih Baru Ajax Datang, Posisi Maarten Paes di Bawah Mistar Diprediksi Tetap AmanTransfer Permanen Marcus Rashford ke Barcelona Tersendat, Manchester United Tetap Patok Harga Tinggi
Pada 2023, langkah besar diambil dengan mendirikan Borussia Academy Indonesia, yang bekerja sama dengan klub Jerman, Borussia Mönchengladbach. Akademi ini hadir sebagai wadah pembinaan talenta muda dengan pendekatan modern yang mengadaptasi sistem pelatihan Eropa.
Dalam perjalanannya, akademi tersebut telah melahirkan sejumlah pemain muda berbakat. Bahkan, beberapa di antaranya mendapatkan kesempatan berlatih langsung di Jerman untuk merasakan atmosfer sepak bola profesional yang lebih kompetitif. Hal ini menjadi salah satu indikator keberhasilan program yang dibangun Saras bersama timnya.
Saras mengungkapkan bahwa ide mendirikan akademi berawal dari pengalamannya mengikuti berbagai kegiatan sepak bola, termasuk event yang melibatkan klub-klub dari Bundesliga. Dari sana, ia mulai menjalin komunikasi dengan pihak Borussia Mönchengladbach yang kemudian berkembang menjadi kerja sama resmi.
Proses tersebut tidak instan. Dibutuhkan waktu hampir satu tahun untuk membangun kepercayaan dan menyamakan visi. Saras mengakui bahwa tantangan terbesar adalah meyakinkan pihak luar, mengingat dirinya bukan praktisi sepak bola. Namun, jejaring pertemanan, khususnya dengan komunitas Jerman di Indonesia, menjadi pintu masuk yang mempermudah langkahnya.
Lebih jauh, Saras menyoroti pentingnya peran orang tua dalam perjalanan anak di dunia sepak bola. Menurutnya, keterlibatan aktif orang tua bukan hanya soal mendukung, tetapi juga memahami kebutuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh.
