RADARCIREBON.TV – Lebanon menetapkan masa berkabung nasional setelah gelombang serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 lainnya dalam satu hari, Rabu (7/4/2026).
Ledakan keras dilaporkan mengguncang kawasan Dahiyeh di selatan Beirut, disertai kepulan asap tebal yang membumbung dari sejumlah titik serangan.
Militer Israel sebelumnya menyatakan telah menargetkan lebih dari 100 lokasi di Beirut, Lembah Beqaa, serta wilayah selatan Lebanon hanya dalam waktu sekitar 10 menit.
Pencarian Korban Masih Berlangsung
Baca Juga:Dampak Serangan Israel ke Iran: Harga Emas 2026 Melonjak Tajam, Apakah Akan Naik Terus?Eskalasi Konflik Timur Tengah: Serangan Rudal Iran Meluas ke Negara-Negara Teluk
Beberapa jam setelah serangan besar terjadi, tim penyelamat masih terus mencari korban selamat di antara puing-puing bangunan yang hancur.
Di lokasi terdampak, terlihat sisa-sisa kehidupan yang terhenti mendadak, mulai dari foto keluarga, pakaian, hingga buku pelajaran yang belum selesai digunakan.
Seorang warga, Abdelkader Mahfouz, yang tengah menjenguk saudaranya yang terluka, menggambarkan kondisi di lokasi sebagai sangat memilukan.
“Ada banyak bagian tubuh di sini. Hanya warga sipil yang menjadi korban. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.
Serangan Terbesar Sejak Konflik Memanas
Gelombang serangan pada Rabu disebut sebagai yang terbesar sejak konflik antara Israel dan kelompok militan Hezbollah kembali memanas pada awal Maret 2026.
Dari total korban tewas, sedikitnya 92 orang dilaporkan berasal dari wilayah Beirut.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyebut situasi saat ini sebagai eskalasi yang sangat berbahaya.
Baca Juga:Trump Belum Setujui Gencatan Senjata 45 Hari, Ketegangan AS–Iran Masih MemanasPresiden Myanmar Min Aung Hlaing Digugat atas Dugaan Genosida Rohingya di Indonesia
Ia menyatakan bahwa serangan udara Israel telah menyasar wilayah sipil di berbagai kawasan, termasuk Beirut, Dahiyeh, Beqaa, Mount Lebanon, dan wilayah selatan.
Pemerintah Lebanon Bergerak
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyatakan bahwa pemerintah tengah mengerahkan seluruh sumber daya politik dan diplomatik untuk menghentikan serangan yang terus berlanjut.
Upaya internasional juga mulai digencarkan di tengah tekanan global terhadap situasi kemanusiaan di Lebanon.
Gencatan Senjata Tak Berlaku untuk Lebanon
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut.
Hal ini juga diperkuat oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menyebut bahwa terdapat kesalahpahaman terkait cakupan gencatan senjata.
