RADARCIREBON.TV – Pasar komoditas pertanian menyambut positif kabar gencatan senjata di Timur Tengah, namun para petani diperkirakan masih akan menghadapi tekanan biaya produksi yang tinggi dalam jangka panjang.
Harga gandum berjangka di AS melemah pada perdagangan Rabu, seiring pelaku pasar memantau apakah Iran akan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan syarat jalur tersebut dibuka.
Kontrak gandum CBOT untuk pengiriman Juli turun 2,8% menjadi 5,91 dolar per bushel. Jagung turun 0,5% menjadi 4,57 dolar per bushel, sementara kedelai justru naik tipis 0,2% ke level 11,77 dolar per bushel.
Baca Juga:Persiapan Tanah dan Media Tanam yang Ideal untuk GandumMencegah Obesitas Dengan Mengonsumsi Roti Sari Gandum,Yuk Simak Manfaat lainnya.
Meski investor menyambut baik gencatan senjata, masalah mendasar di sektor pertanian belum terselesaikan. Gangguan pasokan pupuk akibat konflik dan hambatan logistik diperkirakan akan berdampak hingga beberapa tahun ke depan.
Analis dari Teucrium Trading menyebutkan bahwa meskipun jalur pelayaran dibuka kembali, pasar jagung tetap menghadapi masalah yang kemungkinan baru pulih paling cepat pada 2027.
Kerusakan infrastruktur energi, termasuk pabrik gas alam, serta kemacetan distribusi membuat pasokan pupuk tetap terbatas. Akibatnya, petani harus membeli pupuk dengan harga lebih mahal atau mengurangi penggunaan, yang berisiko menurunkan hasil panen.
Selain itu, kenaikan harga bahan bakar juga menjadi beban tambahan. Lembaga pembiayaan pertanian CoBank memperkirakan lonjakan harga diesel dapat menambah biaya hingga sekitar 2.000 dolar per petani.
Meskipun harga komoditas pertanian mengalami perbaikan, kenaikan tersebut dinilai belum cukup untuk menutupi lonjakan biaya produksi secara keseluruhan.
