Harga Kakao Melejit, Dolar Melemah Picu Gejolak Pasar Global

ilustrasi coklat kakao
ilustrasi coklat kakao foto : pinterest
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Harga kakao dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu, didorong oleh pelemahan indeks dolar AS yang turun ke level terendah dalam empat minggu terakhir. Kondisi ini memicu aksi short covering di pasar berjangka kakao, sehingga mempercepat kenaikan harga.

Di bursa ICE New York, kontrak kakao Mei (CCK26) ditutup naik 168 poin atau sekitar 5,55%. Sementara itu, kakao ICE London kontrak Mei (CAK26) juga menguat 61 poin atau 2,62%.

Namun, penguatan harga kakao di London sedikit tertahan oleh apresiasi poundsterling Inggris yang mencapai level tertinggi dalam lima minggu. Penguatan mata uang tersebut membuat harga kakao berbasis pound menjadi relatif lebih mahal.

Baca Juga:Ini Dia Pupuk Ajaib yang Bikin Kakao Subur dengan Hasil Maksimal!Buah Coklat atau Kakao Yang Bermanpaat Bagi Kesehatan ! Simak di Sini ya.

Dari sisi fundamental, kenaikan harga kakao juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca di Afrika Barat. Curah hujan yang terjadi belum mampu meredakan kekhawatiran kekeringan di dua produsen utama dunia, yakni Pantai Gading dan Ghana. Data African Flood and Drought Monitor menunjukkan bahwa lebih dari setengah wilayah Pantai Gading dan sekitar dua pertiga wilayah Ghana masih mengalami kekeringan hingga akhir Maret.

Selain itu, posisi short besar yang dimiliki oleh dana investasi di pasar kakao London turut memicu reli. Laporan Commitment of Traders menunjukkan bahwa posisi short bersih meningkat menjadi 33.827 kontrak, tertinggi dalam lebih dari delapan tahun, sehingga berpotensi mendorong aksi beli kembali dalam skala besar.

Faktor geopolitik juga berperan. Penutupan Selat Hormuz meningkatkan biaya logistik global, termasuk harga pupuk, tarif pengiriman, dan asuransi, yang pada akhirnya menambah beban biaya bagi importir kakao.

Di sisi lain, kebijakan dari negara produsen turut memengaruhi pasar. Ghana memangkas harga pembelian kakao kepada petani hampir 30%, sementara Pantai Gading berencana menurunkan pembayaran hingga 57% untuk panen pertengahan musim. Kedua negara ini menyumbang lebih dari setengah produksi kakao dunia.

Namun demikian, terdapat tekanan dari sisi permintaan. Produsen cokelat besar seperti Barry Callebaut AG melaporkan penurunan volume penjualan hingga 22%, mencerminkan melemahnya minat konsumen akibat harga yang tinggi.

Data penggilingan kakao juga menunjukkan tren serupa. Di Eropa, penggilingan turun 8,3% secara tahunan, sementara di Asia turun 4,8%. Amerika Utara hanya mencatat kenaikan tipis sebesar 0,3%.

0 Komentar