IRGC Rilis Peta Rute Aman di Selat Hormuz, Dunia Soroti Ancaman Ranjau Laut

Ilustrasi kapal
Ilustrasi kapal Foto : pinterest
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Iran merilis peta jalur pelayaran alternatif di Selat Hormuz. Peta tersebut ditujukan untuk membantu kapal-kapal internasional menghindari ranjau laut yang disebut-sebut telah dipasang di sejumlah titik strategis.

Dalam peta yang beredar melalui media lokal Iran, beberapa wilayah ditandai sebagai “area berbahaya” dengan lingkaran khusus. Angkatan Laut IRGC mengimbau seluruh kapal yang melintas agar melakukan koordinasi terlebih dahulu guna memastikan jalur yang aman. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa kondisi keamanan di jalur pelayaran vital tersebut tengah berada dalam situasi genting.

Perubahan rute pelayaran pun mulai diberlakukan. Kapal tanker yang sebelumnya melintas di jalur selatan dekat wilayah Oman kini diarahkan untuk mengambil rute lebih ke utara, mendekati perairan Iran. Pergeseran jalur ini dinilai berisiko karena mempersempit ruang gerak kapal sekaligus meningkatkan potensi ketegangan antara pihak-pihak yang berkepentingan di kawasan tersebut.

Baca Juga:Penolakan Negara-Negara Teluk terhadap Rencana Iran Mengenakan Biaya Transit di Selat HormuzHarga Minyak Anjlok Tajam Usai Iran Buka Selat Hormuz, Gencatan Senjata 2 Pekan Disepakati

Situasi ini langsung mendapat respons dari berbagai pihak internasional, termasuk Abu Dhabi National Oil Company. CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, secara tegas meminta Iran untuk membuka Selat Hormuz tanpa syarat. Ia menilai bahwa kebijakan pembatasan pelayaran yang dilakukan Iran bertentangan dengan prinsip kebebasan navigasi internasional.

“Iran telah memperjelas bahwa pelayaran kini tunduk pada izin dan pengaruh politik. Itu bukan kebebasan navigasi, melainkan bentuk tekanan,” ujar Sultan Al Jaber dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur alami yang dilindungi oleh hukum internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Konvensi Hukum Laut. Jalur ini bukan milik satu negara dan tidak boleh dijadikan alat tekanan politik atau ekonomi.

Selat Hormuz sendiri memiliki peran yang sangat krusial dalam perdagangan energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya. Oleh karena itu, setiap gangguan di wilayah ini dapat berdampak langsung pada harga minyak global, stabilitas ekonomi, hingga keamanan energi berbagai negara.

Ketegangan yang terjadi saat ini juga memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dapat dengan cepat memengaruhi sektor ekonomi global. Ancaman ranjau laut dan pembatasan pelayaran berpotensi meningkatkan biaya logistik, memperpanjang waktu pengiriman, serta memicu lonjakan harga energi di pasar internasional.

0 Komentar