RADARCIREBON.TV – Presiden Prabowo Subianto mendorong pemanfaatan sumber energi alternatif untuk produksi bahan bakar pesawat (avtur), dengan memanfaatkan kelapa sawit hingga minyak jelantah sebagai bahan baku utama. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional di tengah tekanan global yang terus meningkat.
Dalam peresmian kendaraan listrik VKTR di Magelang pada Kamis (9/4/2026), Prabowo menyatakan bahwa avtur tidak lagi harus bergantung pada bahan bakar fosil. Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi berbasis biomassa, terutama dari kelapa sawit yang melimpah.
Menurutnya, selain sawit, minyak jelantah atau limbah minyak goreng juga memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan bakar penerbangan. Pemanfaatan limbah ini tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga:Ternyata Minyak Jelantah Bisa Jadi Sumber Keuntungan Ekonomi, Ini Alasannya!
Meski demikian, Prabowo mengakui bahwa kebutuhan energi berbasis karbon masih belum bisa sepenuhnya ditinggalkan dalam waktu dekat. Oleh karena itu, penggunaan energi fosil tetap akan dipertahankan, namun difokuskan pada sektor-sektor strategis.
Dorongan pengembangan avtur alternatif ini juga tidak lepas dari dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi global. Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia yang kerap terganggu akibat konflik.
Kenaikan harga avtur dalam beberapa waktu terakhir telah meningkatkan beban operasional maskapai penerbangan. Dampaknya, sejumlah maskapai mulai melakukan penyesuaian harga tiket, yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.
Pemerintah melalui kementerian terkait telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, termasuk menjaga stabilitas pasokan avtur dan memberikan ruang bagi maskapai untuk menyesuaikan tarif batas atas secara terbatas. Selain itu, insentif juga disiapkan guna menjaga keberlanjutan industri penerbangan nasional.
Langkah pengembangan avtur berbasis sawit dan limbah ini dinilai sebagai upaya strategis untuk menciptakan sistem energi yang lebih tangguh. Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Namun, implementasi kebijakan ini tetap memerlukan kesiapan teknologi, investasi besar, serta koordinasi lintas sektor. Tanpa itu, ambisi kemandirian energi berisiko menjadi sekadar wacana.
