Strategi Pemerintah Perkuat Rupiah Saat Krisis, Kunci Utama Kembalikan Kepercayaan

Ilustrasi rupiah
Ilustrasi rupiah Foto : pinterest
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Penguatan nilai tukar rupiah di tengah krisis ekonomi bukan hanya soal kebijakan moneter semata, tetapi juga berkaitan erat dengan kepercayaan pasar dan masyarakat. Hal ini diungkapkan oleh mantan Menko Ekuin, Ginandjar Kartasasmita, yang pernah terlibat langsung dalam penanganan krisis ekonomi pada akhir 1990-an.

Menurut Ginandjar, faktor paling krusial dalam memulihkan nilai tukar rupiah adalah mengembalikan kepercayaan publik dan pelaku pasar terhadap pemerintah. Ia menilai bahwa krisis ekonomi 1997–1998 tidak hanya dipicu oleh masalah moneter, tetapi juga oleh runtuhnya kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

“Jawaban yang paling utama adalah mengembalikan kepercayaan,” ujarnya.

Pada masa krisis tersebut, nilai tukar rupiah sempat terpuruk hingga menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini diperparah oleh inflasi tinggi, arus modal keluar, serta ketidakpastian politik yang terjadi saat masa transisi reformasi.

Baca Juga:IRGC Rilis Peta Rute Aman di Selat Hormuz, Dunia Soroti Ancaman Ranjau LautRUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingatkan Hak Harta Warga Dilindungi UUD

Untuk menahan pelemahan rupiah lebih dalam, pemerintah saat itu mengambil langkah strategis dengan menggandeng lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank. Dukungan dari lembaga tersebut menjadi penting karena cadangan devisa Indonesia saat itu mengalami tekanan yang cukup berat.

Menurut Ginandjar, bantuan tersebut bukan hanya dalam bentuk dana, tetapi juga memberikan sinyal positif kepada pasar bahwa Indonesia masih memiliki dukungan internasional. Hal ini membantu menahan tekanan terhadap rupiah sekaligus membuka jalan bagi pemulihan secara bertahap.

Selain dukungan eksternal, pemerintah juga memperkuat koordinasi antar lembaga dalam negeri, khususnya antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi serta memulihkan kepercayaan pasar.

Langkah-langkah tersebut secara perlahan berhasil memperbaiki kondisi ekonomi dan menstabilkan nilai tukar rupiah. Kepercayaan yang mulai pulih mendorong kembalinya investasi dan mengurangi tekanan terhadap mata uang nasional.

Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menilai Ginandjar sebagai salah satu tokoh penting yang telah meletakkan dasar pembangunan ekonomi Indonesia modern. Ia menyebut peran Ginandjar tidak hanya dalam penanganan krisis, tetapi juga dalam membangun fondasi kebijakan jangka panjang.

0 Komentar