RADARCIREBON.TV – Perubahan pelatih selalu membawa warna baru bagi sebuah tim, termasuk Timnas Indonesia. Pergantian dari Shin Tae-yong ke John Herdman menghadirkan pergeseran gaya bermain yang cukup mencolok. Jika sebelumnya skuad Garuda dikenal dengan pressing tinggi yang intens, kini permainan mulai terlihat lebih tenang, rapi, dan terstruktur.
Di era Shin Tae-yong, Timnas Indonesia mengusung filosofi permainan yang agresif. Pelatih asal Korea Selatan itu menanamkan pressing ketat sejak lini depan, memaksa lawan melakukan kesalahan di area berbahaya. Pola ini membuat permainan Indonesia terlihat cepat, penuh energi, dan terkadang sangat menguras stamina pemain. Meski efektif dalam beberapa pertandingan, pendekatan tersebut juga kerap menimbulkan celah di lini belakang ketika transisi tidak berjalan sempurna.
Sebaliknya, John Herdman menghadirkan pendekatan yang lebih terukur. Pelatih asal Kanada itu dikenal mengedepankan organisasi permainan yang rapi serta penguasaan bola yang lebih sabar. Alih-alih terus menekan secara agresif, Herdman lebih memilih momen yang tepat untuk melakukan pressing. Hal ini membuat permainan Timnas Indonesia terlihat lebih stabil, terutama dalam menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan.
Baca Juga:Harga iPhone 15 Series Naik di April 2026, Ini Daftar Harga Terbaru dan Kisaran Harga BekasnyaPrediksi Susunan Pemain Chelsea vs Manchester City 12 April 2026: Duel Sengit di Stamford Bridge
Perbedaan mencolok juga terlihat dalam pengaturan posisi pemain. Di bawah Shin Tae-yong, pemain sering bergerak dinamis dengan intensitas tinggi, bahkan tak jarang melakukan pressing hingga ke area pertahanan lawan tanpa henti. Sementara itu, di era Herdman, jarak antar lini lebih terjaga. Pemain tampak lebih disiplin dalam mempertahankan posisi, sehingga alur permainan menjadi lebih terkontrol.
Meski berbeda pendekatan, kedua pelatih memiliki satu kesamaan penting, yaitu sama-sama menuntut kerja keras tinggi dari para pemain. Intensitas tetap menjadi kunci, hanya saja cara penerapannya yang berbeda. Shin Tae-yong menekankan agresivitas tanpa kompromi, sedangkan Herdman mengombinasikan intensitas dengan kecerdasan taktik.
Transformasi ini turut memengaruhi mentalitas tim. Jika sebelumnya Timnas Indonesia identik dengan permainan cepat dan penuh tekanan, kini tim mulai menunjukkan kedewasaan dalam mengatur tempo. Mereka tidak lagi terburu-buru dalam membangun serangan, melainkan lebih sabar mencari celah di pertahanan lawan.
Perubahan gaya ini tentu membutuhkan waktu adaptasi. Namun, banyak pihak menilai pendekatan Herdman bisa memberikan stabilitas jangka panjang, terutama dalam menghadapi lawan-lawan dengan kualitas lebih tinggi. Permainan yang lebih terstruktur dinilai mampu meminimalkan kesalahan sendiri yang kerap terjadi saat bermain terlalu agresif.
