RADARCIREBON.TV – Persib Bandung benar-benar sedang berada di jalur yang sulit disentuh. Di tengah tekanan kompetisi yang makin panas, Maung Bandung justru menunjukkan ketenangan seorang pemimpin klasemen yang tahu cara bertahan sekaligus menggigit.
Kemenangan 3-2 atas Bali United di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Minggu (12/4), bukan sekadar tambahan tiga poin, ini adalah pernyataan keras bahwa Persib belum bisa digeser.
Dengan raihan 64 poin dari 27 pertandingan, Persib kini membuka jarak empat angka dari pesaing terdekatnya, Borneo FC. Selisih ini bukan hanya angka, tapi juga tekanan psikologis bagi para pemburu di bawahnya. Saat tim lain mulai goyah, Persib justru semakin solid, bahkan ketika harus bertarung dalam kondisi tidak ideal.
Baca Juga:Dominasi Persib Bandung atas Bali United: Konsistensi Tak Terkalahkan di Era Bojan HodakDitekan, Ditempa, dan Bersinar! Beckham Putra Nugraha Jadi Motor Baru Persib Bandung
Pertandingan melawan Bali United berjalan seperti duel dua petarung kelas berat keras, cepat, dan penuh benturan. Persib membuka keunggulan lewat tandukan Ramon Tanque di menit ke-29. Gol itu lahir dari skema sederhana namun mematikan: umpan jauh dari sisi kiri belakang yang disambut dengan determinasi tinggi di kotak penalti. Sebuah gol yang mencerminkan karakter Persib, langsung, tegas, tanpa basa-basi.
Memasuki babak kedua, tekanan tidak mengendur. Persib justru menggandakan keunggulan lewat Luciano Guaycochea di menit ke-55. Memanfaatkan bola liar hasil sepakan keras Eliano Reijnders, Guaycochea menunjukkan insting predatornya. Skor 2-0 membuat stadion bergemuruh, namun pertarungan belum selesai.
Bali United membalas di menit ke-81, Yachida melalui eksekusi tendangan bebas yang menghujam gawang Teja Paku Alam. Gol itu menjadi alarm bahaya. Intensitas pertandingan meningkat, tensi memuncak, dan duel berubah menjadi pertarungan terbuka.
Namun Persib tidak goyah. Mereka justru memukul balik di menit ke-87. Sepak pojok yang dieksekusi dengan presisi disambut tandukan keras Federico Barba. Gol ketiga itu seperti pukulan telak yang seolah mengakhiri perlawanan.
Meski Bali United sempat memperkecil skor menjadi 3-2 lewat Brujin di masa injury time, itu hanya menjadi catatan akhir dari perjuangan yang terlambat. Persib tetap berdiri sebagai pemenang.
Yang membuat kemenangan ini terasa lebih “berdarah” adalah fakta bahwa Persib harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-66 setelah Matricardi menerima kartu kuning kedua. Dalam kondisi timpang, mereka tidak bertahan mereka melawan. Ini bukan sekadar kemenangan, ini adalah bukti mental juara.
