Viral Perkawinan Domba Resepsi Besar Besaran – Video

Viral Perkawinan Domba Resepsi Besar Besaran
0 Komentar

Dalam perayaan anniversary ke-33 PT Sarbi Moerhani Lestari, Direktur Utama H. Wawan Hermawan Tjarata menghadirkan ide unik yang menghebohkan jagat maya dengan menggelar prosesi perkawinan domba bernama Noah bin Ariel di Majalengka. Prosesi yang dikemas layaknya resepsi pernikahan manusia ini sukses menarik perhatian publik, terlebih sang domba “mempelai jantan” menikahi sekaligus empat domba betina yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat dengan pertunjukan seni yang merupakan simbol perpaduan peternakan dan budaya.

Jagat maya kembali dihebohkan dengan peristiwa tak biasa yakni perkawinan domba yang digelar bak resepsi mewah ala garden party yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun ke-33 PT Sarbi Moerhani Lestari. Gagasan unik dari Direktur Utama, H. Wawan Hermawan Tjarata ini mempertemukan Noah bin Ariel dengan empat domba betina asal Majalaya Bandung, Garut, Sukabumi hingga Tasik dalam satu prosesi resepsi perkawinan yang mewah.

Prosesi di Padepokan Condrawisesa Majalengka ini berlangsung lengkap dan tertata bahkan di hadiri alumni Fakultas Kehutanan IPB angkatan E19++ serta pengurus HPDKI dan para peternak domba kambing se-Majalengka. Rangkaian acara meliputi penyambutan pengantin dengan petasan, penyambutan oleh lengser dan penari, penyambutan mempelai betina oleh keluarga mempelai jantan, seserahan, petuah dari padepokan atau penghulu domba, ijab qobul, pemberian mahar, helaran hingga mengantar kelima mempelai ke kamar pengantin untuk honeymoon.

Baca Juga:Reresik Masjid Al Hikmah Mandirancan – VideoGerakan Bersih Lingkungan DLH Kabupaten Cirebon – Video

Pemilik padepokan, Ateng Sutisna yang juga alumni Fahutan IPB E19++ menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan perpaduan antara peternakan rakyat dan budaya lokal khas Sunda. Ia menyebut tradisi seperti nyuguh, mipit, badirian, kawin tebu, kawin batu hingga kawin cai menjadi inspirasi utama hingga lahirnya konsep kawin domba yang disebut-sebut sebagai yang pertama di Nusantara.

Sementara, Ateng yang juga anggota DPR RI menegaskan kegiatan ini bukan sekadar hiburan bagi peternak rakyat dan tukang ngarit, tetapi juga bentuk kesadaran warga Jawa Barat untuk memperoleh keturunan unggul dari perkawinan yang selektif, jelas nasabnya dan tercatat di kantor padepokan, sekaligus mendorong nilai ekonomi peternak rakyat. Ateng berharap tradisi ini dapat dilestarikan dan menjadi identitas budaya lokal dengan mengangkat kearifan lokal guna mempertahankan bahkan meningkatkan genetika domba garut, sekaligus mendukung pengembangan peternakan rakyat dan ketahanan pangan.

0 Komentar