Menurutnya, fokus utama tim CdM adalah memastikan seluruh atlet dan ofisial memperoleh fasilitas yang mampu menunjang performa selama bertanding. Baginya, tantangan akomodasi yang tersebar ini bisa diantisipasi dan ditangani dengan maksimal.
“Bagi kami, tantangan tersebut dapat diantisipasi dan dimaksimalkan penanganannya. Tugas utama tim Chef de Mission adalah memastikan seluruh kebutuhan organisasi kontingen, khususnya atlet dan ofisial, dapat terpenuhi dengan baik,” kata Todotua.
Ia juga menjelaskan bahwa panitia penyelenggara telah memberikan rancangan awal penempatan cabang olahraga di berbagai lokasi akomodasi. Salah satunya, cabang olahraga basket direncanakan menghuni Athlete Village.
Baca Juga:Harga Emas Antam Hari Ini Senin 20 Juli 2026 Stagnan di Rp 2.614.000, Ini Daftar LengkapnyaCara Nonton Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina, Kick-off 02.00 WIB Dini Hari
“Memang pembagian tersebut masih terus disempurnakan oleh panitia, namun secara umum penempatannya dilakukan berdasarkan cabang olahraga. Kami akan terus berkoordinasi secara intensif hingga seluruh pengaturan benar-benar final,” ujarnya.
Skema Cabor Mandiri dengan Target Prestasi
Selain membahas kesiapan kontingen, RALB NOC Indonesia juga mengulas rencana penerapan skema keberangkatan mandiri bagi sejumlah cabang olahraga. Mekanisme ini saat ini masih dibahas bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga, tim Chef de Mission, serta NOC Indonesia.
Okto menegaskan, konsep cabang olahraga mandiri bukan berarti memberikan kebebasan bagi federasi untuk berangkat tanpa aturan. Skema tersebut justru akan dibangun dengan prinsip akuntabilitas dan tanggung jawab terhadap pencapaian prestasi.
“Kalau memilih berangkat secara mandiri, maka pembiayaannya juga dilakukan secara mandiri dan harus disertai tanggung jawab prestasi. Targetnya bukan sekadar hadir di Asian Games, tetapi membawa pulang medali untuk Indonesia,” tegasnya.
Ia menambahkan, setiap usulan keberangkatan akan tetap melalui kajian menyeluruh, mulai dari peluang meraih medali, kesiapan logistik, hingga kepastian akomodasi bagi atlet dan ofisial.
“Kami tidak mungkin memberangkatkan siapa pun tanpa perencanaan yang matang. Kami harus memastikan atlet memiliki tempat tinggal yang jelas, dukungan logistik yang memadai, dan peluang prestasi yang terukur. Jangan sampai keputusan yang diambil justru menimbulkan persoalan baru yang berdampak pada nama baik Indonesia,” pungkas Okto.
