“Saat itu, Mayor Abdurahman dan 11 orang pasukannya tertangkap lalu ditembak mati di depan balai desa yang sekarang berdiri itu, Mayor Abdurahman yan saat itu sedang terserang penyakit malaria, tetap menjaga rahasia dari Belanda saat diminta untuk membuka keberadaan pasukan Siliwangi yang dipimpin oleh Letkol Sadikin yang telah bergeser dari Situraja,” tambah Arys
Sejumlah rumah di Desa Cibubuan merupakan peninggalan bebuyutnya. Kebanyakan warga masih mempertahankan bentuk bangunanya karena selain unik juga memiliki sejarahnya masing-masing paling tidak sejarah bagi keluarganya.
“Rumah Kardun Martadipura sendiri diturunkan secara turun temurun, sejak zaman Belanda,” ungkapnya.
Baca Juga:Langkah KudaBandel, Satpol PP Bongkar Puluhan Bangli di Jalan Interchange Karawang Barat, Pemilik Tak Gubris Surat Teguran
Peristiwa long march pasukan Siliwangi dari Jawa Barat menuju Yogyakarta terjadi lantaran adanya agresi militer Belanda I setelah diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia 1945. Long march pertama terjadi pada Januari 1948 setelah adanya perjanjian renville.
Perjanjian tersebut mengharuskan TNI meninggalkan Jawa Barat pindah ke daerah kekuasaan Republik Indonesia di Yogyakarta. Namun setelah 11 bulan disana, long march kembali harus dilakukan setelah Belanda kembali melancarkan agresi militer keduanya.
Tepat pada 18 Desember 1948, Belanda menggempur lapangan terbang Maguwo, Yogyakarta. Pada perististiwa tersebut, pasukan Siliwangi oleh Jenderal Sudirman diperintahkan untuk kembali menguasai kantong-kantong kekuatan di Jawa Barat yang dikuasai oleh Belanda.
Pada saat hijrah keduanya ini, setelah tiba di Jawa Barat, salah satu daerah yang disinggahi oleh pasukan Siliwangi yakni kawasan seitaran Conggeang dan Buahdua, Sumedang. Daerah Buahdua menjadi salah satu basis persembunyian dan pertahanan kala itu. (kga)