Dengan sisa waktu sekitar 47 hari lagi menuju pemungutan suara, Ari mengatakan kemungkinan masih terjadi perubahan. “Bisa saja terjadi. Kita juga mengambil sampel dengan probability sampling. Artinya siapa pun semua penduduk Kota Cirebon punya peluang kita ambil sebagai sampel. Makanya kemungkinan itu bisa saja sesuai effort masing-masing paslon,” terangnya.
Kalau ada paslon yang unggul cukup jauh, kata Ari, tinggal lihat paslon di bawahnya punya waktu untuk mengejar atau tidak. “Kalau tidak bisa mengejar maka paslon nomor 2 tetap unggul. Peluang sama-sama besarnya, bisa saja nomor 1 dan 3 bisa naik, tapi apakah kenaikannya signifikan,” sambungnya.
Masih lanjut Ari, bisa saja kenaikannya hanya 5 persen. Hal ini dilihat margin error 4 persen dan yang belum memutuskan 5,8 persen atau kalau digabung antara margin of error ditambah yang belum memutuskan sebesar 9,8 persen.
Baca Juga:Calon Wakil Walikota Suhendrik Mulai Sosialisasi Program 5 Persen APBD Untuk Alokasi RWPangdam III/ Siliwangi Mayjen TNI Dadang Arif Abdurahman Pimpin Sertijab Danrem 063/Sunan Gunung JatiĀ
“Bisa saja menambah 4 persen atau turun 4 persen ketiga paslon itu. Atau bisa saja masing-masing paslon bisa naik atau turun 2 persen, Jadi itu kemungkinan-kemungkinanya,” urai Ari.
Disinggung tentang money politics, Ari menjelaskan, sesama lembaga survey pernah melakukan survei nasional tentang money politics, tapi kontesknya saat itu adalah pemilu legislatif. Data itu itu bisa jadi acuan money politics, di mana bisa terjadi dan kemungkinan mengubah pilihan warga.
“Kalau mempengaruhi pilihan pada pilkada, bisa saja mempengaruhi. Tapi pertanyaannya, seberapa besar pengaruhnya? Kalau tidak signifikan pencapaian suara, maka money politics akan menjadi sia-sia. Salah satu paslon bisa sama mengejar paslon yang unggul dengan money politics, tapi itu pun tak bisa melampaui angka 8 persen atau 10 persen. Kalau sampai berani melakukan money politics, maka gambling dan resikonya luar biasa,” pungkasnya.