Bagi pelatih asal Kroasia itu, keikutsertaan Persib di Piala Presiden 2025 terasa prematur. Jadwal yang mepet, waktu persiapan yang sempit, dan resiko cedera yang menghantui jadi kekhawatiran nyata. Bahkan, dua pemain Maung Bandung dilaporkan mengalami cedera seusai laga ini.
Meski demikian, Hodak tetap memuji anak asuhnya—terutama di babak pertama. Ia melihat potensi, meski belum padu.
“Di babak pertama, kami tim yang lebih baik. Tapi babak kedua banyak pemain muda turun. Ini jadi pengalaman,” ucapnya.
Baca Juga:Kok Bisa?? Persebaya dan Malut Gagal Tampil di Asean Club Championship!! Gara-gara Apa?Tangis Jamal Musiala, Pasukan Bayern Geram, Neuer:Dia Harusnya Bijak, Insiden Itu Harusnya Tak Terjadi
Ia juga menyoroti kurangnya chemistry antar pemain baru. Nama-nama seperti William Marcilio dan Uilliam Barros sudah menunjukkan kualitas, tetapi belum terhubung dengan sistem permainan.
“Mereka punya potensi, tapi rekan-rekan mereka belum mengerti timing dan pergerakannya. Ini soal waktu dan latihan,” tambahnya.
Laga ini bukan sekadar hasil akhir. Ini cermin dua filosofi dan dua situasi berbeda. Port FC datang dengan struktur yang matang dan persiapan penuh. Persib, sebaliknya, masih mencari bentuk dan ritme.
Kemenangan Port FC adalah kemenangan dari kesiapan. Kekalahan Persib adalah konsekuensi dari keterbatasan waktu. Tapi keduanya punya pelajaran yang sama: pramusim bukan sekadar pemanasan, tapi fondasi arah tim ke depan.
Dan ketika Piala Presiden 2025 terus bergulir, publik akan menanti: apakah ekspresi tenang Hodak hanyalah jeda sebelum badai bangkit, atau sinyal awal musim penuh tantangan?
