Di balik sorot mata aparat dan pejabat, ada pesan yang ingin disampaikan: bahwa keindahan sebuah kota bukan hanya soal bangunan dan cahaya lampu, tapi tentang bagaimana manusia dan ruang bisa hidup berdampingan—dengan hormat, dengan rapi, dengan cinta.
Kini, Trusmi memulai babak barunya. Bukan semata kawasan batik, tapi ruang kultural yang ditata ulang, agar kembali layak menyambut siapa saja.
Sebuah reset bukan akhir. Ia justru adalah titik tolak. Dari jalanan yang kembali bersih, dari senyum pedagang yang tak lagi terusir, dari wisatawan yang merasa aman—semoga Trusmi bukan sekadar destinasi, melainkan cermin dari bagaimana Cirebon menjaga warisan dan memeluk masa depan.
