RADARCIREBON.TV – Ada yang salah dengan Manchester City? Pertanyaan itu mungkin terasa basi, tapi fakta di lapangan tak bisa dibantah: tim besutan Pep Guardiola ini baru saja menelan dua kekalahan beruntun di Premier League. Setelah dipermalukan Tottenham Hotspur di Etihad Stadium dengan skor 0-2, kini giliran Brighton & Hove Albion yang membuat wajah City tampak lusuh.
Ironisnya, City sebenarnya sempat terlihat “normal” ketika Erling Haaland membuka skor pada menit ke-34. Publik Etihad, yang masih percaya dengan dongeng Guardiola, bersorak seperti biasa. Namun semua itu hanya ilusi. Begitu Brighton menemukan celah, City kembali menunjukkan sisi rapuh yang jarang mereka akui.
James Milner, yang sudah kenyang asam garam Premier League dan mungkin sudah masuk kategori “veteran tua”, justru jadi eksekutor yang menyamakan kedudukan pada menit ke-67 lewat titik putih. Dan drama makin paripurna ketika Brajan Gruda pemain yang nyaris tak pernah masuk daftar bintang iklan menutup pesta dengan gol yang merobek jala James Trafford. Hasilnya? City kalah lagi, 1-2.
Baca Juga:Akhir Era Kejayaan Manchester City, Aura Sang Juara Kini MemudarPSG Kendur di Meja Negosiasi, Donnarumma Semakin Dekat ke Manchester City
Guardiola Kehilangan Sentuhan? Magis Guardiola, yang biasanya jadi jurus pamungkas, entah terselip di mana musim ini. Sempurna di laga pembuka Premier League, City tiba-tiba kehilangan arah. Dua kali kalah beruntun jelas bukan “menu” yang biasa tersaji di dapur Guardiola. Apalagi satu di antaranya datang dari Brighton, tim yang, sejujurnya, tidak pernah dianggap calon juara.
Banyak yang bilang, “Ah, ini hanya fase.” Tapi publik mulai gelisah. City bukan sekadar klub besar, mereka adalah tim dengan label super club yang punya segunung dana dan bintang papan atas. Kekalahan dari Brighton seperti tamparan keras: mahal, megah, glamor, tapi tetap bisa jatuh di tangan tim yang tak pernah disebut dalam percakapan perebutan trofi.
Statistik Membela, Tapi Tak Menyelamatkan
Mari bicara angka. City unggul telak dalam penguasaan bola: 63 persen melawan 37 persen. Terlihat gagah di kertas, tapi kosong makna di papan skor. Brighton dan City sama-sama melepaskan 12 tembakan, namun kualitasnya berbeda. Expected goals Brighton mencapai 2,29, lebih tinggi dari City yang hanya 1,84.