“Nilai tambahnya tetap dinikmati oleh petani, bukan bocor ke rantai tengkulak atau spekulan.”
Sistem ini memungkinkan semua pelaku melihat data produksi dan distribusi secara terbuka. Siapa yang menanam apa, berapa hasilnya, dan bagaimana pembagian keuntungan, semuanya transparan. “Teknologi memastikan efisiensi dan keadilan ekonomi,” kata Budiman.
Cirebon Jadi Lokasi Pertama
Kabupaten Cirebon ditunjuk sebagai daerah percontohan nasional. BP Taskin menggandeng 500 petani miskin untuk menggarap 26 hektare lahan di Kecamatan Sumber. Jika berjalan lancar, hingga akhir 2025, luas lahan yang terintegrasi dalam sistem ini ditargetkan mencapai 7.000 hektare di Jawa Barat.
Baca Juga:Bakal Panas! Purbaya Tolak APBN Bayar Utang Whoosh: “Jangan Kalau Enak Swasta, Kalau Enggak Enak Government!”Luca Zidane: Dari Prancis ke Aljazair, Jejak Darah, Pilihan Hati, dan Perjalanan Pulang ke Tanah Leluhur
“Cirebon dipilih karena komitmen kepala daerahnya kuat dan masih banyak keluarga petani miskin yang perlu dibantu. Ada lebih dari 570 keluarga di sini,” terang Budiman.
Selain Cirebon, lima daerah lain telah menandatangani nota kesepahaman serupa: Indramayu, Kuningan, Brebes, dan Kota Cirebon. Semuanya akan menjadi satu aglomerasi pertanian digital berbasis kolaborasi ekonomi.
Harapan dan Tantangan dari Daerah
Bupati Cirebon, H. Imron, yang hadir langsung dalam acara peluncuran, mengaku optimistis namun realistis.
“Program ini memberi semangat baru bagi petani kami. Tapi kami sadar, pembinaan harus terus dilakukan karena metode ini masih baru,” katanya.
Menurut Imron, Cirebon memang menghadapi tantangan berat. Meski wilayahnya subur, tingkat kemiskinan petani masih tergolong tinggi di wilayah Priangan Timur. “Melalui kerja sama ini, kami berharap kesejahteraan petani meningkat, dan angka kemiskinan menurun drastis,” ujarnya.
Imron memastikan Pemkab Cirebon akan mendukung penuh inisiatif BP Taskin. “Kami sudah menandatangani MOU. Intinya, kami siap bekerja sama agar petani tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang kemiskinan,” tegasnya.
Dari Sawah Menuju Digital
Lebih dari sekadar program bantuan, “Tanam Sekali, Panen Empat Kali” adalah langkah menuju revolusi data pertanian Indonesia. Sistem ini memungkinkan setiap hektare sawah memiliki rekam jejak digital dari bibit, pupuk, hingga hasil panen.
Baca Juga:Indonesia Takluk 1–2 dari India, Indra Sjafri: “Ini Bukan Soal Kalah, Tapi Soal Evaluasi Tim”Uang Korupsi Bank Pemerintah Cirebon Dipakai Umrah, Wisata, dan Hidup Mewah
Melalui data, petani tak lagi menebak-nebak nasib. Mereka bisa menghitung potensi keuntungan, memantau pasokan pasar, bahkan menjual hasil tanam langsung ke konsumen lewat platform daring.
