Fenomena Tumbler: Ramah Lingkungan atau Justru Ancaman Baru?

Tumbler
Fenomena Tumbler: Ramah Lingkungan atau Justru Ancaman Baru? Foto: From Gemini AI
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Hilangnya sebuah tumbler akibat kecerobohan pemiliknya membuat seluruh Indonesia heboh. Perbincangan mengenai tumbler pun kembali mencuat setelah insiden viral itu.

Tumbler kini bukan hanya sekadar tempat untuk minum, tetapi juga menjadi simbol gaya. Generasi Z, atau gen-Z, bahkan menganggapnya sebagai aksesoris yang tidak boleh ketinggalan saat bepergian. Hal ini setidaknya tercermin dari survei terbaru yang dilakukan oleh Culligan UK, sebuah perusahaan penyedia solusi air minum untuk rumah dan kantor.

Tumbler adalah istilah lain untuk botol air berinsulasi. Berbeda dengan botol biasa, tumbler memanfaatkan teknologi pengisolasi berlapis ganda atau bahkan tiga lapis untuk menjaga suhu minuman antara 12 hingga 48 jam. Inovasi ini menjadi salah satu alasan mengapa harga tumbler lebih tinggi dibandingkan wadah air biasa.

Baca Juga:Drama Pemanggilan: Greenwood Ditolak Pemain JamaikaSkuad Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025: Marselino dan Tiga Pemain Abroad Masuk Daftar

Hampir semua tumbler berkualitas tinggi terbuat dari bahan seperti stainless steel kelas 304/316, Tritan yang bebas BPA, atau teknologi pemisahan berlapis.

Selain lebih kuat dan tahan terhadap benturan, bahan tersebut memastikan keamanan produk bagi kesehatan (tidak melepaskan bahan kimia), tidak mudah berkarat, dan tidak mengubah rasa. Stabilisasi suhu juga semakin efisien.

Tren penggunaan tumbler ini berawal dari kesadaran untuk lebih memperhatikan lingkungan sebagai alternatif botol plastik sekali pakai. Namun, seperti dilaporkan oleh New York Times, popularitas tumbler melonjak pada tahun 2022 setelah komunitas ibu muda di New York City, Amerika Serikat, memposting di media sosial mengenai pengalaman mereka menggunakan produk dari Stanley.

Penjualan tumbler Stanley, yang harga per unitnya sekitar US$ 45 atau Rp 800. 000 ke atas, tiba-tiba meningkat tajam. Dalam laporan CNBC dua tahun lalu, merek yang sudah ada selama 111 tahun dan dulunya lebih dikenal sebagai botol minum untuk pendaki gunung ini berhasil meraih penjualan mencapai US$ 750 juta, meningkat jauh dari pencapaiannya pada tahun 2020 yang hanya US$ 70 juta.

Seiring dengan meningkatnya permintaan, Stanley mulai menawarkan berbagai jenis tumbler dengan pilihan warna dan desain yang semakin beragam. Kerjasamanya dengan merek lain atau artis terkenal seperti Jennie BLACKPINK semakin mengundang obsesi masyarakat terhadap tumbler.

0 Komentar