Jejak Pilu Garuda di Tanah Gajah: Kenapa Thailand Selalu Jadi Ujian Berat?

Timnas U-22
Thailand selalu menjadi ujian berat bagi Timnas (foto @timnasindonesia)
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Sejarah partisipasi Timnas Indonesia dalam ajang SEA Games khususnya cabang olahraga sepak bola putra memang penuh dengan ironi. Di satu sisi, status Indonesia sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di Asia Tenggara seharusnya menjamin dominasi. Namun di sisi lain, capaian emas yang begitu sulit diraih, terutama ketika turnamen digelar di Thailand, selalu menjadi catatan kelam yang berulang.

Dalam catatan panjang gelaran SEA Games, Thailand telah menjadi tuan rumah sebanyak enam kali. Bagi skuad Garuda, enam edisi tersebut seolah menjadi kutukan yang membuat mimpi meraih medali emas selalu terhenti. Bahkan, di antara semua negara peserta, hanya Indonesia yang menorehkan rekor paling buruk ketika berkompetisi di Negeri Gajah Putih.

Pertama kali Indonesia harus menghadapi Thailand sebagai tuan rumah adalah pada tahun 1967 dan 1975. Pada dua edisi awal itu, Timnas memang belum menunjukkan performa terbaiknya dan gagal melaju jauh. Namun, situasi mulai terasa menyakitkan ketika Thailand kembali menjadi tuan rumah pada 1985. Di bawah harapan tinggi publik, Timnas Indonesia takluk secara menyedihkan di hadapan Malaysia pada perebutan tempat ketiga, sehingga harus pulang tanpa medali sama sekali.

Baca Juga:Curtis Jones Buka Suara: Inilah yang Hilang dari Jantung Permainan LiverpoolGebrakan Awal Nova Arianto: 11 Talenta Muda Dipanggil Seleksi Timnas U-20, Dominasi Lima Pemain Persib!

Jelang akhir milenium, harapan sempat membuncah. Tepatnya pada SEA Games 1995 yang kembali digelar di Thailand. Timnas Indonesia berhasil melaju hingga babak semifinal. Sayangnya, mimpi tersebut dihancurkan oleh Thailand sendiri yang tampil superior. Indonesia dipaksa gigit jari setelah kalah telak, dan harus puas pulang dengan medali perunggu capaian terbaik yang bisa diraih tim Garuda di tanah Thailand.

Tren sulit tersebut berlanjut pada edisi 2007, yang juga diselenggarakan di Thailand. Di edisi itu, Timnas Indonesia bahkan gagal melewati babak penyisihan grup. Indonesia hanya mampu meraih satu kemenangan, dan sisanya berakhir dengan kekalahan yang memastikan mereka tersingkir dini.

Melihat kembali enam kali Thailand menjadi penyelenggara, rekor Timnas Indonesia sangat memprihatinkan. Dari total 20 pertandingan yang dimainkan oleh Indonesia di seluruh edisi tersebut, Timnas hanya mampu meraih kemenangan sebanyak empat kali saja. Rekor ini sungguh kontras dengan performa Indonesia di negara lain. Ini menunjukkan adanya semacam hambatan psikologis dan teknis yang membuat para pemain Garuda selalu kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka saat bermain di Negeri Gajah Putih. Kesulitan ini terus membayangi, menjadikan setiap turnamen di Thailand sebagai tantangan mental dan taktik yang jauh lebih berat bagi skuad Merah Putih.

0 Komentar