RADARCIREBON.TV – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pandangan optimis mengenai prospek ekonomi Indonesia di tahun 2026. Dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2025, Airlangga menyatakan bahwa hampir seluruh risiko pertumbuhan ekonomi telah diantisipasi dan diakomodasi pada tahun ini, sehingga tahun depan diharapkan menjadi momentum untuk menuai hasil dari berbagai kebijakan yang telah dijalankan.
“Risiko yang akan muncul seluruhnya sudah price-in, sudah masuk di dalam tingkat suku bunga dan harga-harga termasuk rupiah di tahun ini. Sehingga untuk tahun 2026 yang kita lihat adalah upside risk, Pak Presiden. Dengan baseline di 5,4 persen sesuai dengan APBN. Jadi kita berharap dan optimis tahun depan akan lebih baik dari tahun ini,” kata Airlangga di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto.
Keyakinan ini didasarkan pada beberapa indikator positif. Mandiri Spending Index menunjukkan peningkatan konsumsi masyarakat dengan indeks berada di angka 312 pada November 2025, di atas ambang batas 300. Investasi juga mencatat pertumbuhan yang signifikan, mencapai Rp1.434 triliun hingga September 2025 atau meningkat 13,7 persen secara year on year (yoy). Pemerintah juga terus mempercepat belanja, dengan realisasi belanja kementerian/lembaga mencapai Rp1.109 triliun per 24 November.
Baca Juga:Ramalan Zodiak Leo: Keajaiban Menanti di Akhir Tahun 2025Panggung Liga Europa Bergelora: Kejutan, Dominasi, dan Asa Tim-Tim Unggulan
Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah-langkah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan memangkas BI-Rate sebesar 125 basis point (bps) menjadi 4,75 persen sepanjang tahun 2025. Langkah ini diharapkan dapat mendorong kredit usaha dan belanja masyarakat.
Inflasi juga berhasil dikendalikan dalam rentang sasaran target nasional, tercatat 2,86 persen secara yoy pada Oktober. Airlangga menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan suku bunga BI serta dorongan insentif fiskal pemerintah dalam mengelola ekspektasi inflasi. “Inflasi dapat berhasil tahun ini melalui sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor riil, dan koordinasi daerah,” ujarnya.
Pemerintah juga telah menjalankan berbagai program untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Gerakan Pasar Murah (GPM) telah dilaksanakan di lebih dari 11 ribu titik, penyaluran beras stabilisasi pasokan pangan mencapai 624 ribu ton (dengan rencana penyaluran 875 ribu ton lagi), dan bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng telah digelontorkan kepada 18,3 juta penerima manfaat. Selain itu, realisasi pembiayaan KUR dan alsintan mencapai Rp86 triliun hingga Oktober 2025, dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencakup lebih dari 44 juta anak diharapkan dapat menyerap produksi petani.
