RADARCIREBON.TV – Nama Nurdin Halid kembali menjadi perbincangan di kancah olahraga Tanah Air. Figur yang pernah memimpin PSSI selama hampir sepuluh tahun ini kini menciptakan cerita baru sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PP Pelti). Pergantian posisi dari sepak bola ke tenis memang menjadi bahan lelucon, tetapi prestasi di SEA Games 2025 membuktikan kesanggupan tersebut.
Nurdin Halid hadir langsung di Thailand untuk menyaksikan usaha tim tenis Indonesia dalam SEA Games 2025 yang berlangsung dari 9 hingga 20 Desember. Kehadirannya berbarengan dengan penampilan mengesankan dari tim Merah Putih di lapangan tenis. Hingga hari Jumat (19/12/2025) siang waktu setempat, Indonesia berhasil meraih tiga medali emas dan enam perunggu, serta menempati posisi kedua di klasemen kategori tenis.
Tiga medali emas itu diraih melalui nomor ganda putri oleh pasangan Aldila Sutjiadi dan Janice Tjen, nomor beregu putra yang diperkuat oleh Christopher Rungkat dan kawan-kawan, serta beregu putri yang juga dipimpin Aldila Sutjiadi bersama Anjali Kirana Junarto, Janice Tjen, Meydiana Laviola Reinnamah, dan Priska Madelyn Nugroho. Prestasi ini menjadi tanda kuat kebangkitan tenis Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga:Penuh Makna: Garuda Pertiwi Mengambil Pelajaran Berharga di SEA Games 2025 Demi Mimpi Piala DuniaKembali, Gila! Timnas Voli Putra Indonesia Tekuk Vietnam dan Lolos ke Final SEA Games 2025
Dalam wawancara dengan wartawan, Nurdin Halid mengakui sering kali menjadi bahan lelucon dari rekan-rekannya di PSSI. Ia disebut berpindah dari mengurusi “bola besar” ke “bola kecil”. Namun, menurutnya, perbedaan terletak pada karakteristik masing-masing cabang olahraga. Sepak bola mengandalkan kerja sama tim yang solid, sedangkan tenis lebih menekankan aspek individu dari seorang atlet.
Perbedaan inilah yang dianggapnya sebagai tantangan terbesar di Pelti. Nurdin melihat bahwa kultur individualistik masih cukup menonjol, tidak hanya di antara atlet, tetapi juga di kalangan pelatih dan pengurus. Situasi ini membuat usaha untuk menyatukan visi dan kepentingan bersama menjadi tugas yang tidak mudah.
Sebagai langkah strategis, Nurdin melakukan penataan organisasi dengan menempatkan pelatih profesional di bawah koordinasi Pelti. Ia juga berupaya untuk mengubah pandangan terhadap tenis, dari sekadar olahraga atau hobi menjadi karir yang menjanjikan masa depan.
