Perayaan malam tahun baru 2026 di Kota Cirebon telah usai. Namun makna pergantian tahun masih terasa di Vihara Dewi Welas Asih. Suasana tenang di hari pertama 2026 menjadi bagian dari refleksi umat, sekaligus awal persiapan menyambut tahun baru Imlek Februari mendatang.
Inilah suasana Vihara Dewi Welas Asih, Kota Cirebon pada Kamis, 1 Januari 2026. Sehari setelah perayaan malam tahun baru, aktivitas di vihara terlihat lebih lengang. Tidak ada keramaian, tidak ada hiburan, yang terlihat hanyalah umat datang bergilir.
Satu per satu umat memasuki ruang ibadah. Sebagian datang sendiri, sebagian datang bersama keluarga. Mereka menyalakan dupa, menundukkan kepala, dan memanjatkan doa di awal tahun baru.
Baca Juga:Pengelola Sawit Diultimatum untuk Tunjukan Izin Pengelolaan Lahan – VideoPedagang Mengais Sisa Barang Pasca Kebakaran – Video
Suasana hening menyertai setiap langkah umat. Hari pertama tahun 2026 dimanfaatkan untuk beribadah dan menata harapan. Bagi umat Buddha, pergantian tahun adalah momentum refleksi diri sebelum melangkah ke hari-hari berikutnya.
Memasuki awal Januari, persiapan menyambut tahun baru Imlek 2026 mulai dilakukan. Rangkaian persiapan ini tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga menyentuh kegiatan sosial. Kegiatan berbagi kepada masyarakat dan umat menjadi salah satu agenda awal sebelum memasuki puncak perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
Saat Imlek tiba, vihara kembali ramai, umat datang dari berbagai daerah. Setelah berkumpul bersama keluarga di rumah, mereka melanjutkan tradisi dengan berdoa di vihara. Doa yang dipanjatkan pun tidak jauh berbeda; harapan akan kesehatan, kelancaran usaha, keharmonisan keluarga, dan kehidupan yang lebih baik.
Secara makna, tahun baru nasional dan tahun baru Imlek memiliki esensi yang sama. Keduanya menandai pergantian waktu, sekaligus titik awal untuk melangkah ke depan. Perbedaan hanya terletak pada tradisi, sedangkan nilai dasarnya tetap sama: berbenah, berharap, dan memulai tahun baru dengan semangat baru.
Dalam ketenangan hari pertama di tahun 2026, Vihara Dewi Welas Asih menjadi saksi bahwa pergantian tahun tidak selalu dirayakan dengan keramaian, namun dapat dimaknai melalui keheningan, doa, dan harapan.