RADARCIREBON.TV- Nama Niclas Fullkrug sempat menjadi salah satu penyerang paling disegani di Eropa berkat performanya bersama Borussia Dortmund dan Timnas Jerman.
Postur besar, naluri gol tajam, serta kemampuan duel udara menjadikannya striker klasik yang efektif di era sepak bola modern. Namun, perjalanan kariernya di Premier League bersama West Ham United justru tidak berjalan sesuai harapan.
Kini, penyerang berusia 31 tahun itu dikabarkan tengah mencari kebangkitan baru, dan AC Milan disebut-sebut sebagai destinasi potensial untuk menghidupkan kembali kariernya di level tertinggi sepak bola Eropa.
Baca Juga:Mimpi Biru di Asia: Zulio Cesar Penuh Keyakinan Persib Bandung Siap Melaju Jauh di AFC Champions League 2Gagal Amankan Antoine Semenyo, Man United Alihkan Bidikan ke Target Alternatif Demi Perkuat Lini Serang
Masa Sulit di West Ham: Ekspektasi Tinggi, Realita Tak Sejalan
Kepindahan Fullkrug ke West Ham United awalnya disambut dengan ekspektasi besar. Ia diproyeksikan menjadi solusi di lini depan The Hammers, terutama untuk menambah variasi serangan dan ketajaman di kotak penalti. Pengalaman bermain di Bundesliga dan kompetisi Eropa membuat banyak pihak yakin Füllkrug bisa beradaptasi cepat di Inggris.
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Fullkrug kesulitan menemukan ritme permainan terbaiknya. Adaptasi terhadap intensitas Premier League, gaya bermain West Ham yang lebih mengandalkan transisi cepat, serta minimnya suplai bola matang membuat kontribusinya tidak maksimal.
Dalam beberapa pertandingan, ia terlihat terisolasi di lini depan dan lebih sering berduel fisik ketimbang mendapatkan peluang bersih. Kondisi ini berdampak pada kepercayaan diri sang pemain, yang dikenal membutuhkan sentuhan bola dan dukungan lini tengah untuk tampil optimal.
Fullkrug dan Masalah Kesesuaian Gaya Bermain
Salah satu faktor utama yang membuat Füllkrug kurang bersinar di West Ham adalah ketidaksesuaian gaya bermain. Sebagai striker target man, ia lebih efektif dalam sistem yang mengandalkan umpan silang, build-up terstruktur, dan dominasi penguasaan bola.
West Ham, di sisi lain, kerap bermain lebih pragmatis. Serangan cepat dan direct football memang efektif dalam beberapa situasi, tetapi tidak selalu menguntungkan tipe striker seperti Füllkrug. Akibatnya, kontribusi gol yang diharapkan belum tercapai, dan posisinya mulai tersisih oleh rotasi taktik.
