Seblak umumnya menggunakan bumbu instan, kaldu bubuk, dan penyedap rasa dalam jumlah cukup banyak untuk menghasilkan rasa gurih yang kuat. Kandungan garam dan monosodium glutamat (MSG) yang tinggi berpotensi meningkatkan risiko tekanan darah tinggi jika dikonsumsi setiap hari.
Asupan natrium berlebih juga dapat membebani kerja ginjal. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal, terutama bagi mereka yang kurang minum air putih atau memiliki riwayat penyakit tertentu.
•Risiko Kenaikan Berat Badan
Seblak yang dikonsumsi dengan porsi besar dan tambahan topping tinggi lemak seperti sosis, bakso, dan keju dapat menyumbang kalori yang cukup tinggi. Jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, konsumsi seblak setiap hari dapat menyebabkan penumpukan kalori berlebih.
Baca Juga:Mengurai Fakta dan Spekulasi di Balik Rumor Jay Idzes Masuk Radar Manchester UnitedMisi Nerazzurri Tak Boleh Tergelincir: Inter Milan Tantang Bologna dalam Duel Penentu Arah Perburuan Gelar Ser
Kondisi ini berisiko memicu kenaikan berat badan, obesitas, dan masalah kesehatan lain seperti kolesterol tinggi serta resistensi insulin. Tanpa disadari, kebiasaan makan seblak harian bisa menjadi pintu masuk berbagai penyakit tidak menular.
•Kualitas Bahan dan Kebersihan yang Perlu Diwaspadai
Seblak sering dijual di pinggir jalan dengan proses pengolahan yang beragam. Tidak semua pedagang memperhatikan standar kebersihan dan kualitas bahan baku. Kerupuk mentah yang direndam terlalu lama atau disimpan tidak higienis berisiko terkontaminasi bakteri.
Jika seblak dikonsumsi setiap hari dari sumber yang kurang terjamin kebersihannya, risiko gangguan pencernaan seperti diare atau keracunan makanan bisa meningkat. Oleh karena itu, aspek kebersihan juga menjadi hal penting yang tak boleh diabaikan.
•Bijak Menikmati Seblak
Seblak bukanlah makanan yang sepenuhnya harus dihindari. Jika dikonsumsi sesekali dan diolah dengan lebih sehat, seblak tetap bisa dinikmati tanpa menimbulkan dampak buruk. Mengurangi tingkat kepedasan, membatasi penggunaan penyedap rasa, menambahkan sayuran seperti sawi atau wortel, serta memilih protein yang lebih sehat bisa menjadi alternatif.
Selain itu, penting untuk menjaga variasi menu harian agar tubuh mendapatkan asupan gizi yang seimbang. Mengombinasikan makanan tradisional favorit dengan pola makan sehat adalah kunci menjaga kesehatan jangka panjang.
