RADARCIREBON.TV —Nama itu sempat hanya bergaung di Valdebebas dan tribun kecil Alfredo Di Stéfano. Kini, Gonzalo García tak lagi sekadar catatan akademi. Ia sudah menjadi headline.
Hattrick ke gawang Real Betis menjadi deklarasi paling keras: Real Madrid menemukan penyerang barunya, bukan hasil belanja mahal, tapi lahir dari rahim La Fábrica. Usianya baru 21 tahun. Lahir di Madrid, 24 Maret 2004. Tinggi 182 cm, tubuhnya ramping tapi gerakannya tajam. Gonzalo García adalah definisi penyerang modern: bisa menjadi ujung tombak, second striker, bahkan melebar sebagai penyerang sayap. Namun satu hal tak berubah, insting membunuh di kotak penalti.
Malam milik Gonzalo, Laga melawan Real Betis menjadi panggung yang sempurna. Tanpa Kylian Mbappé yang absen, sorotan semula tertuju pada nama-nama besar lain. Tapi sepak bola selalu punya cara memilih protagonisnya sendiri. Gonzalo menjawab kepercayaan Xabi Alonso dengan cara paling brutal: tiga gol, tanpa kompromi.
Baca Juga:FT : Real Madrid Vs Betis 5-1,Gonzalo Garcia Hattrick, Rodrygo Cetak Dua AsistHT : Real Madrid Vs Real Betis 1-0, Mbappe Absen Cedera, Gonzalo Garcia dan Vinícius Jadi Tumpuan Madrid
Gol pertama lahir dari pergerakan senyap lepas dari kawalan bek, satu sundulan kepala, bola bersarang. Gol kedua adalah kecerdikan membaca ruang, memotong jalur bola sebelum kiper bereaksi. Gol ketiga? Penyelesaian dingin, nyaris tanpa emosi. Hattrick. Bernilai pesan: ini bukan kebetulan.
Bernabéu bergemuruh. Nama Gonzalo diteriakkan, bukan sebagai kejutan, tapi sebagai harapan baru. Dari La Fábrica ke panggung dunia. Perjalanan Gonzalo bukan dongeng instan. Ia masuk akademi Real Madrid sejak 2014, sempat menimba pengalaman di Mallorca, lalu kembali ke Madrid pada 2019 dengan mental lebih matang. Di Real Madrid Castilla, ia tumbuh menjadi predator: 30 gol dari 73 laga. Statistik yang bicara sebelum media sempat menoleh.
Debut tim utama datang pada November 2023. Tapi ledakan sesungguhnya terjadi di Piala Dunia Antarklub 2025. Dalam empat pertandingan, Gonzalo mencetak banyak gol dan tampil sebagai solusi di saat Madrid membutuhkan energi baru di lini depan. Ia bukan sekadar pengganti Mbappé, ia alternatif yang sah.
Di bawah Xabi Alonso, Gonzalo seperti menemukan habitat terbaiknya. Pelatih yang juga lahir dari tradisi Real Madrid itu memahami satu hal: penyerang tak selalu harus berisik. Kadang, kecerdasan lebih mematikan dari kecepatan.
