RADARCIREBON.TV – Pemecatan Ruben Amorim dari kursi manajer Manchester United menutup salah satu periode paling suram dalam sejarah klub di era Premier League. Meski datang dengan reputasi mentereng dari Portugal, pelatih berusia 40 tahun itu gagal memenuhi ekspektasi besar publik Old Trafford. Serangkaian statistik buruk menjadi bukti nyata bahwa era Amorim layak disebut sebagai salah satu yang terburuk sepanjang sejarah modern MU.
Selama menangani Setan Merah, Amorim hanya mencatatkan persentase kemenangan sekitar 38 persen di ajang Premier League. Angka ini menjadi yang terendah di antara seluruh manajer tetap Manchester United sejak kompetisi tersebut bergulir pada 1992. Rata-rata poin per pertandingan pun anjlok ke kisaran 1,2 poin, jauh dari standar klub papan atas.
Tak hanya itu, posisi Manchester United di klasemen keseluruhan sejak Amorim menjabat juga memprihatinkan. MU tercatat berada di peringkat ke-14 dalam akumulasi poin liga, kalah bersaing dari tim-tim seperti Brighton, Fulham, hingga Brentford. Bahkan, capaian terbaik Amorim dalam satu musim penuh hanya membawa MU finis di sekitar papan tengah, sebuah rekor terendah sejak klub terdegradasi pada musim 1973/1974.
Baca Juga:Hasil Liga Inggris Tadi Malam: Drama Injury Time di Craven Cottage, Liverpool Gagal MenangHighlight Liverpool vs Fulham: VAR, Penalti Kontroversial, dan Gol Dianulir Warnai Duel Panas di Craven Cottag
Masalah terbesar lainnya terletak pada sektor pertahanan. Rasio clean sheet Manchester United di bawah Amorim berada di bawah 20 persen, menjadikannya salah satu yang terburuk dalam sejarah klub di Premier League. Rata-rata kebobolan lebih dari 1,5 gol per pertandingan mempertegas rapuhnya lini belakang Setan Merah, baik saat bermain kandang maupun tandang.
Dibandingkan dengan manajer-manajer sebelumnya seperti Sir Alex Ferguson, Jose Mourinho, hingga Erik ten Hag, catatan Amorim terlihat sangat kontras. Bahkan pelatih-pelatih yang dianggap gagal pun masih mampu mencatatkan performa lebih stabil dibandingkan Amorim. Kekalahan memalukan di ajang domestik, termasuk dari tim kasta bawah dengan nilai skuad jauh lebih rendah, semakin memperburuk citranya.
Ironisnya, hasil buruk tersebut terjadi di tengah pengeluaran transfer yang sangat besar. Manchester United menghabiskan ratusan juta pound untuk mendatangkan pemain baru, namun dampaknya nyaris tak terlihat di papan klasemen. Efisiensi transfer Amorim pun menjadi sorotan tajam publik dan media Inggris.
