Pelatih Persib sendiri menegaskan bahwa hasil pertandingan adalah tanggung jawab tim secara keseluruhan. Ia menilai bahwa para pemain sudah berusaha maksimal, namun ada detail-detail kecil yang gagal dieksekusi dengan baik. Soal jersey, pihak tim menegaskan bahwa warna apa pun seharusnya tidak menjadi alasan utama kegagalan di lapangan.
Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa faktor psikologis memegang peranan penting dalam sepak bola. Kepercayaan diri pemain, dukungan suporter, dan atmosfer yang tercipta sebelum pertandingan dapat memengaruhi performa di lapangan. Ketika sebagian Bobotoh sudah terlanjur memiliki persepsi negatif terhadap jersey kuning, hal itu dikhawatirkan bisa berdampak pada mental pemain, terutama jika isu tersebut terus digoreng di ruang publik.
Sebagian Bobotoh yang lebih moderat mencoba menengahi perdebatan ini. Mereka mengajak sesama pendukung untuk lebih fokus pada evaluasi permainan, bukan terjebak pada mitos yang belum tentu memiliki dasar kuat. Menurut mereka, Persib justru membutuhkan dukungan penuh dalam situasi sulit, bukan tambahan tekanan dari isu-isu non-teknis.
Baca Juga:Akhir Kisah Federico Barba di Bandung: Minta Maaf ke Bobotoh, Bek Italia Pilih Pulang ke Eropa Demi KeluargaJuventus Dikepung Lawan, Jay Idzes Bangun “Benteng Baja” Venezia di Tengah Ancaman Raksasa Italia
Di sisi lain, jersey kuning sejatinya memiliki makna tersendiri. Warna tersebut sering diasosiasikan dengan semangat, energi, dan keberanian. Beberapa klub besar dunia juga menjadikan kuning sebagai warna ikonik mereka dan mampu meraih kesuksesan. Artinya, persoalan bukan terletak pada warna, melainkan bagaimana tim mempersiapkan diri dan menjalankan rencana permainan di lapangan.
Fenomena mengaitkan kekalahan dengan jersey juga menunjukkan betapa besarnya kecintaan Bobotoh terhadap Persib. Loyalitas yang tinggi sering kali melahirkan reaksi emosional ketika tim kesayangan gagal meraih hasil maksimal. Dalam konteks ini, jersey kuning menjadi simbol kekecewaan yang mudah dikenali dan dijadikan sasaran pelampiasan.
Ke depan, manajemen Persib diharapkan mampu lebih bijak dalam mengelola aspek teknis maupun non-teknis, termasuk pemilihan jersey. Bukan untuk menuruti mitos, tetapi demi menjaga kenyamanan psikologis pemain dan suporter. Jika isu jersey terus menimbulkan polemik, bukan tidak mungkin hal tersebut akan mengganggu fokus tim dalam menjalani kompetisi yang masih panjang.
Kekalahan dari Persik seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi Persib Bandung. Baik soal konsistensi permainan, ketajaman lini depan, hingga soliditas pertahanan. Sementara bagi Bobotoh, peristiwa ini bisa menjadi pengingat bahwa dukungan sejati tidak hanya hadir saat tim menang, tetapi juga ketika berada dalam situasi sulit.
