RADARCIREBON.TV- Kasus pemain Indonesia yang bertindak kasar di lapangan kembali terjadi. Kali ini, Dwi Pilihanto harus menerima hukuman sangat berat: dilarang bermain sepak bola seumur hidup. Tak cuma itu, ia juga langsung dipecat oleh klubnya, KAFI Jogja.
Insiden ini terjadi di ajang Liga 4 Daerah Istimewa Yogyakarta, sama seperti kasus Hilmi Gimnastiar dari PS Putra Jaya yang sempat ramai beberapa waktu lalu. Dwi melakukan aksi brutal saat KAFI Jogja menghadapi UAD FC, Selasa (6/1/2026).
Korban dari kejadian ini adalah Amirul. Dalam situasi perebutan bola di pinggir lapangan, Dwi justru menendang kepala lawannya. Aksi itu jelas bikin geger karena dilakukan dengan keras dan membahayakan.
Baca Juga:PSS Sleman Resmi Datangkan Bek Brasil Lucao, Pengganti Cleberson yang CederaPSIM Yogyakarta Makin Panas, Dua Pemainnya Masuk Best XI Pekan ke-16 BRI Super League 2025/2026
Anehnya, wasit di lapangan hanya memberi kartu kuning kepada Dwi. Sementara Amirul harus mendapat perawatan medis sebelum akhirnya ditarik keluar dari pertandingan karena kondisinya tidak memungkinkan untuk lanjut bermain.
Setelah laga, insiden tersebut langsung diselidiki Panitia Disiplin (Pandis) Asprov PSSI DIY. Hasilnya, Dwi dijatuhi sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup.
Hukuman itu tertuang dalam surat keputusan bernomor 005/Pandis_Liga4DIY_PSSI_DIY/1/2026, karena Dwi dianggap melanggar sejumlah pasal dalam Kode Disiplin PSSI 2025.
Menanggapi keputusan tersebut, KAFI Jogja pun bergerak cepat. Klub langsung mengambil sikap tegas dengan memecat Dwi Pilihanto dari skuad mereka.
Lewat pernyataan resmi yang diunggah klub, KAFI Jogja menyatakan menerima sepenuhnya putusan Komdis PSSI DIY. Salah satu poin penting dalam surat itu adalah pemberhentian Dwi sebagai pemain karena terbukti melanggar aturan disiplin.
Selain itu, KAFI Jogja juga menyampaikan doa agar Amirul bisa segera pulih dari cedera yang dialaminya. Klub menegaskan komitmennya untuk terus menjunjung tinggi nilai fair play dan sportivitas dalam setiap pertandingan.
Kasus ini kembali jadi pengingat bahwa emosi berlebihan di lapangan bisa berujung konsekuensi besar, bukan cuma buat pemain, tapi juga buat masa depan kariernya sendiri.
