RADARCIREBON.TV – Harapan publik bulu tangkis Indonesia untuk kembali mendengar lagu kebangsaan di partai puncak Malaysia Open 2026 runtuh perlahan di Axiata Arena, Kuala Lumpur. Jonathan Christie, satu-satunya wakil tunggal putra Merah Putih yang tersisa, harus menelan pil pahit setelah takluk dua gim langsung dari andalan Thailand, Kunlavut Vitidsarn, Sabtu malam waktu setempat.
Skor 16-21, 16-21 menjadi penanda berakhirnya perjuangan Jojo di turnamen pembuka musim ini. Angka yang terlihat identik di dua gim itu seakan menggambarkan satu hal: konsistensi tekanan Kunlavut dan kebuntuan Jojo mencari celah untuk bangkit.
Sejak reli pertama, Jojo seperti bermain di bawah bayang-bayang. Kunlavut tampil tenang, nyaris tanpa ekspresi, namun mematikan. Setiap shuttlecock diarahkan dengan presisi, memaksa Jojo terus berlari, bertahan, dan akhirnya menyerah pada tempo yang tak pernah berpihak. Berkali-kali Jojo mencoba mengubah ritme, mempercepat permainan, atau memancing duel net. Namun Kunlavut selalu punya jawaban.
Baca Juga:Semifinal Malaysia Open 2026, Jonatan Christie dan Fajar – Fikri Bertaruh Harga Diri, Harus Menang!!Semifinal Malaysia Open 2026 Hari Ini 10 Januari: Jadwal Pertandingan dan Link Live Streaming
Gim pertama berjalan berat. Jojo sempat menjaga jarak poin di awal, tetapi begitu Kunlavut menemukan irama, jarak melebar dan sulit dikejar. Smash Jojo kerap mentah, sementara bola-bola tanggung justru menjadi santapan empuk bagi Kunlavut. Saat interval berlalu, ekspresi Jojo mulai berubah, bukan putus asa, melainkan kebingungan.
Memasuki gim kedua, harapan sempat menyala. Sorak suporter Indonesia menggema, mencoba meniupkan semangat. Namun cerita tak banyak berubah. Kunlavut tetap dingin, bermain sabar, dan perlahan kembali menjauh. Jojo terus tertinggal, berusaha mengejar, tetapi selalu berhenti di angka 16. Tidak lebih. Tidak cukup.
Ketika poin terakhir jatuh di sisi Kunlavut, Jojo hanya terdiam sejenak. Pandangannya kosong, raket masih tergenggam, seolah mencoba mencerna kenyataan pahit bahwa langkahnya terhenti di semifinal. Tidak ada teriakan, tidak ada drama. Hanya tepuk tangan sopan dan langkah pelan meninggalkan lapangan.
Kekalahan ini terasa lebih menyakitkan karena Jojo memikul harapan besar. Di tengah absennya Anthony Sinisuka Ginting dan tersingkirnya wakil-wakil Indonesia lainnya, Jojo menjadi simbol asa. Namun Malaysia Open 2026 belum berpihak.
Kini, harapan Indonesia tersisa pada sektor ganda putra. Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri menjadi satu-satunya tumpuan untuk menjaga peluang Merah Putih menembus final. Beban itu tentu tidak ringan, terlebih setelah kegagalan Jojo meninggalkan rasa hampa di tribun dan layar kaca.
