RADARCIREBON.TV- Harga emas dunia diperkirakan akan menjadi salah satu cerita paling menarik dan penuh spekulasi di pasar komoditas global pada tahun 2026.
Setelah reli spektakuler pada 2025 yang membawa harga melejit ke wilayah tertinggi sejarah, pakar dan bank-bank besar kini mengajukan proyeksi yang beragam namun umumnya bullish, mulai dari kisaran $4.000 per ounce hingga lebih dari $5.000 per ounce pada akhir 2026. Prediksi ini didukung oleh sejumlah faktor makroekonomi besar serta tren permintaan jangka panjang yang terus berkembang. Berikut ulasan mendalam tentang prospek emas di tahun depan, mengapa harganya mungkin naik, apa risiko yang harus diperhatikan, dan bagaimana investor sebaiknya bersiap.
Proyeksi Harga: Dari Mid-$4.000 hingga Lebih dari $5.000
Beberapa lembaga keuangan internasional telah menaikkan target harga emas mereka untuk 2026 secara signifikan:
Baca Juga:Derbi Sarat Tekanan di Depan Mata: Persija Dihantui Ketidakpastian, Persib Datang dengan Kepercayaan Diri TingSouza Tantang Bobotoh & Jakmania: Ini Bukan Sekadar Derbi, Ini Pembuktian Siapa Tim Terbaik Indonesia!
Goldman Sachs memproyeksikan harga emas bisa mencapai sekitar $4.900 per ounce pada akhir 2026, didorong oleh permintaan kuat dari bank sentral dan aliran masuk ke produk ETF berbasis emas.
Deutsche Bank menaikkan perkiraan rata-rata harga emas menjadi sekitar $4.450 per ounce, dengan kemungkinan puncak hingga $4.950 selama tahun itu.
J.P. Morgan mengambil langkah lebih agresif dengan memperkirakan harga bisa mencapai sekitar $5.055 per ounce pada kuartal keempat 2026, menempatkannya di atas sebagian besar pandangan lainnya.
Beberapa survei analis bahkan menunjukkan bahwa 71% investor ritel percaya harga emas akan diperdagangkan di atas $5.000 per ounce pada 2026.
Konsensus umum dari berbagai laporan menyimpulkan bahwa harga emas kemungkinan akan berkisar antara $3.950 hingga $5.300 per ounce sepanjang 2026, menjadikannya tahun yang sangat fluktuatif dan penuh peluang bagi investor.
Faktor Pemicu Kenaikan
Beberapa faktor makro dan struktural yang mendasari prospek bullish ini meliputi.
1. Pembelian Bank Sentral yang Masih Tinggi
Bank sentral di banyak negara, terutama di pasar berkembang, terus memperluas cadangan emas mereka sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan. Ini menciptakan permintaan dasar yang sangat “inelastis” terhadap emas.
2. Suku Bunga yang Diprediksi Turun
Baca Juga:Simulasi Briguna Karya BRI Jadi Panduan Finansial Nasabah dalam Merencanakan Kredit Secara Lebih TerukurKredit Tanpa Jaminan Bank Mandiri Jadi Andalan Pembiayaan Praktis di Era Digital
Ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed (Federal Reserve) dalam bentuk pemotongan suku bunga dipandang dapat menurunkan imbal hasil riil obligasi, sehingga emas yang tidak memberi imbal hasil menjadi lebih menarik sebagai aset lindung nilai.
