Dulu, Ronaldo adalah jawaban. Sekarang, ia hanya salah satu bagian dari pertanyaan.
Usia 40 tahun (mendekati), Liga Arab Saudi yang semakin kompetitif, dan Al Hilal yang tampil sebagai mesin dingin tanpa sentimentalitas, memaksa realitas berbicara lebih keras. Ronaldo masih berbahaya di kotak penalti, tetapi sepak bola modern tidak lagi memberi kemewahan pada pemain yang hanya hidup dari momen. Ia menuntut kontinuitas, tekanan, dan peran kolektif hal-hal yang semakin sulit dipenuhi oleh tubuh yang telah menempuh ribuan pertandingan.
Klasemen mempertegas narasi itu. Al Hilal kokoh di puncak dengan 38 poin. Al Nassr tertahan di angka 31, tertinggal tujuh poin, jurang yang dalam untuk liga dengan ambisi juara. Setiap pekan berlalu, dan waktu tidak pernah berpihak pada mereka yang bergantung pada masa lalu.
Baca Juga:Terhenti! Catatan Hat-Trick Ronaldo Selama 15 Tahun BeruntunIsyarat Comeback ke Eropa, Ronaldo Mulai Buka Suara
Apakah Ronaldo sudah habis? Pertanyaan itu kejam, namun jujur. Mungkin jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Ronaldo belum habis sebagai pencetak gol. Tapi sebagai pusat semesta tim, sebagai sosok yang sendirian mampu mengubah takdir pertandingan besar jawaban itu semakin mendekati senyap.
Derby Riyadh malam itu bukan hanya tentang kekalahan Al Nassr. Ia adalah potret kesedihan seorang legenda yang masih berlari, masih berjuang, namun perlahan dikejar oleh bayangannya sendiri. Dan dalam sepak bola, bayangan masa lalu sering kali menjadi lawan paling sulit untuk dikalahkan.
