RADARCIREBON.TV – Timnas Indonesia sukses mengamankan tanda tangan John Herdman, pelatih berpengalaman yang pernah membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022. Persaingan untuk mendapatkan pelatih asal Inggris tersebut juga cukup sulit. Jamaika dan Honduras juga membidik sosok yang dikenal pandai membangun tim dari nol itu. Namun pada akhirnya, Herdman memilih Skuad Garuda sebagai pelabuhan barunya.
Keputusan John Herdman tersebut bykan tanpa alasan. Di balik posisi Indonesia yang masih berada di luar 100 besar ranking FIFA, Herdman melihat sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara lain. Bukan soal nama besar, melainkan soal potensi.
Menurut anggota Komite Eksekutif PSSI, Arya Sinulingga, daya tarik utama Indonesia ada pada komposisi pemainnya. Saat ini, Timnas Indonesia diisi oleh banyak pemain yang bermain di luar negeri, terutama di Eropa. Mereka bukan hanya bermain di liga kecil, tapi juga di kompetisi dengan level tinggi.
Baca Juga:Rekomendasi Tablet Android 3 Jutaan Terbaik 2026: Redmi Pad SE, Galaxy Tab A9+, hingga OPPO Pad AirInfo Terkini!! Daftar Terbaru Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia 2026, Struijk Hingga Riedewald Masuk Radar
Nama-nama seperti Jay Idzes dan Emil Audero yang berlaga di Serie A, Kevin Diks di Bundesliga, hingga Calvin Verdonk di Ligue 1 jadi contoh nyata. Belum lagi Dean James dan Justin Hubner yang bermain di Eredivisie. Bagi Herdman, ini adalah “resource” yang sangat berharga.
“Meski ranking kita masih 122, kualitas pemainnya tidak mencerminkan itu,” ujar Arya dalam keterangannya. Ia menilai Herdman melihat adanya kesenjangan antara posisi Indonesia di FIFA dan kekuatan sesungguhnya di lapangan.
Selain itu, Herdman juga tertarik dengan sistem naturalisasi dan diaspora yang sudah menjadi bagian dari proyek besar Timnas Indonesia. Banyak pemain berdarah Indonesia tersebar di berbagai negara, terutama di Eropa. Bagi pelatih seperti Herdman, ini membuka ruang eksplorasi yang luas.
Tidak seperti negara lain yang hanya mengandalkan liga domestik, Indonesia punya jalur alternatif untuk memperkuat tim. Ini membuat proses membangun skuad jadi lebih fleksibel dan penuh opsi.
Bagi Herdman, tantangan seperti inilah yang justru membuatnya tertantang. Ia tidak datang ke Indonesia untuk tim yang sudah mapan. Ia datang untuk proyek yang masih bisa dibentuk, dengan potensi lonjakan yang besar.
